Pelatihan Blogging by Blogger Jember Sueger : Kesempatan Emas di Awal Tahun 2019.

Masuk ke dunia Blogging yang super seru, sebenarnya bukan impian. Tapi karena memang dulu (saat masih belum tau apa itu Blogging dan apa serunya jadi Blogger) suka curhat nggak jelas di Blog. Tahun 2011 aku sudah menulis di Platform Blogspot yang aku beri nama Triyaspunyacerita.blogspot.com.

10
“Penampakan” Blog pertamaku di Blogspot.com yang aku buat tahun 2011.

Triyas adalah nama udara ketika siaran di Radio Suara Akbar Jember. Waktu masih muda. Masih kuliah. Hehehehe. Singkatan dari Fevtri Sulistya Sjahrir. Berawal dari curhatan, akhirnya terbit beberapa tulisan yang kemudian setelah itu aku vakum sekian lama. Dan ketika aku buka kembali, entah kenapa Blog lamaku ini sudah tidak bisa dimasuki. Mungkin aku lupa password atau bagaimana? Entahlah. Dari situ muncul ide untuk membuat blog baru di Platform WordPress dengan nama fevtrisjahrir.wordpress.com. Blog inilah yang aku gunakan sampai sekarang.

Tulisannya sudah lebih mendingan. Kenapa aku bilang mendingan? Ya karena isinya bukan lagi curhatan, nggak lagi galau-galauan, tapi benar-benar yang lebih berkualitas. Mulai dari resensi buku, catatan perjalanan saat melakukan Solo Traveling dll. Meskipun bahasa dalam penyampaian isi Blog terkadang juga masih berbau kegalauan. Hihihihihi. Sampai akhirnya suatu saat, pandanganku tentang dunia Blog berubah. Sebuah wawasan baru.

12
Ini Blog baru di WordPress yang telah “direvisi” oleh Dosen Pembimbing 1 Mbak Prita Hw dan Dosen Pembimbing 2 Vindy Putri karena sebelumnya cukup menyusahkan mata saat dibaca. 😀 Ini sudah dibuat lebih simpel hanya memakai latar warna polos. 🙂

Selama ini, aku hanya fokus pada blogku sendiri. Tidak pernah terfikir sama sekali untuk masuk dalam sebuah komunitas. Bahkan berkunjung ke Blog teman lainnya pun hampir tidak pernah aku lakukan. Meski saat itu sudah tau ada Vindy Putri yang hanya aku kenal di Facebook. Ada Mbak Prita Hw yang sudah melanglangbuana di dunia Blog Ibukota. Bahkan pernah, melalui Vindy aku mendapat sebuah job review. Wah senangnya bukan main kala itu bisa mendapatkan penghasilan dari tulisan di Blog. Memang bukan itu tujuan utamanya. Tapi tidak bisa dipungkiri, ada rasa bahagia ketika apa yang menjadi hobi kita diapresiasi.

Sekitar tahun 2017, Mbak Prita Hw pulang kembali ke Jember dan kami sempat bertemu. Berbincang tentang keinginan Mbak Prita untuk membuat wadah bagi teman-teman Blogger yang ada di Jember. Aku jelas saja sangat senang karena pasti dengan adanya wadah bagi para Blogger, tentunya akan banyak teman baru, pelajaran baru, ilmu baru.

11
Tim pertama yang dibentuk Mbak Prita untuk Blogger Jember Sueger.

Meskipun sering absen dalam kopdar dengan teman-teman Blogger dan jarang mengikuti kegiatan, tapi aku tetap menulis. Memang tidak serutin teman-teman yang sudah Go Pro alias benar-benar mau terjun menjadi Blogger Profesional dengan konten yang sudah bagus dan menarik. Tapi beberapa catatan perjalanan tetap aku masukkan dalam Blog.

Sejak memutuskan resign (lagi dan lagi, hehehehe) Alhamdulillah ada kesempatan untuk fokus lagi di dunia tulis menulis. Aku fokus memperluas jaringan dan terus berusaha menulis. Buatku, untuk ajeg ini yang cukup susah. Mbak Prita selalu dan terus mengingatkan untuk lebih rajin mengisi Blog dan terus memperbaiki. Itu yang aku rasakan ketika beberapa kali mengikuti event. Konten Blog pasti akan menjadi pertimbangan utama. Bagus, menarik dan berbobot.

9
Berawal dari informasi ini, aku mencoba mendaftar dan lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan blogging by Blogger Jember Sueger.

Sempat bingung karena memang untuk konsultasi pada teman-teman harus menyesuaikan waktu dengan mereka. Dan itu lumayan sulit. Belum ada waktu yang pas. Sampai suatu waktu di akhir bulan Januari 2019, Blogger Jember Sueger mengadakan Pelatihan Blogging yang materinya benar-benar sangat aku butuhkan. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Mulai dari masalah template sampai Personal Branding. Seru! Dan memang benar-benar hal yang baru buatku meski istilah Personal Branding memang sudah tidak asing lagi di telinga.

1
Waktu baca pengumuman ini rasanya seneng ya. Karena bakal belajar banyak hal dalam 3x Pertemuan Pelatihan Blogging.

Pelatihan Blogging yang diadakan Blogger Jember Sueger ini sudah berjalan sebanyak dua kali pertemuan. Pada Pelatihan perdana kita mendapat materi Pengenalan Dunia Blogging oleh Mbak Prita Hw yang juga Founder Blogger Jember Sueger. Selain itu, juga ada materi Desain Blog yang disampaikan oleh Vindy Putri yang juga berprofesi sebagai Layouter di Harian Pagi Radar Jember. Dari sini aku baru tau bahwa ada banyak detail yang harus diperhatikan dalam Blog. Termasuk urusan huruf, warna tulisan, font, bagaimana cara membuat pembaca merasa nyaman. Waaahhh pokoknya bener-bener detail. Ilmu baru dari Vindy dan Mbak Prita.

3
Pada pelatihan perdana, Mbak Prita memberikan materi tentang pengenalan dunia blogging. Eh ada Aa Nana juga. Sepaket deh. Hihihihi.
8-1.jpg
Vindy Putri menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan detail dan desain blog.

Dan dari pelatihan perdana yang diadakan tanggal 26 Januari di Famato Resto itu aku menemukan konklusi bahwa aku harus berpindah Blog dari wordpress.com ke blogspot.com. Sediiiiiihhhhh. Meski isi Blog lama masih belum mencapai 50, rasanya berat. Tapi demi kebaikan lah yaaa. Kalo dibilang “Lebih baik berdarah-darah hari ini tapi bahagia di kemudian hari” hehehehe. Karena aku juga ada keinginan di tahun 2019 untuk naik level dengan memiliki domain .com yang mudah-mudahan bisa terealisasi.

Urusan nama juga ternyata bermasalah. Sebenernya beberapa orang atau mungkin justru semua orang yang mendengar nama Fevtri saja sudah kesulitan. Apalagi harus mengeja nama Fevtri Sjahrir. Hahahaha. Ribet dah tuh. Ada banyak PR yang harus dikerjakan untuk benar-benar memperbaiki Blog. Dan itu aku dapatkan setelah mengikuti Pelatihan Blogging selama 2 pertemuan ini.

2
Refid nyimak materi sambil ngelirik Tangguh kali ya? 😀 Ini saat pelatihan perdana di Famato Jember.

Bersyukur banget deh pokoknya bisa jadi bagian dari Pelatihan ini. Aku jadi tau apa-apa yang harus dibenahi meski masih harus tertunda karena belum hijrah Blog. Dan lebih bersyukur lagi karena Pelatihan ini hanya diikuti oleh beberapa orang saja yang terpilih dari sekitar 30 peserta yang mendaftar. Coba gimana nggak bahagia? Udah ilmunya banyak, bermanfaat, pematerinya oke, gratiiiissss pula. Hihihihi.

6
Foto bersama peserta pelatihan, pemateri dan teman-teman Tim Blogger jember Sueger.

Selain materi desain, peserta juga dibekali materi fotografi untuk di berbagai situasi baik event maupun non event, di dalam maupun luar ruangan, dan angle pengambilan gambar supaya hasil foto yang digunakan untuk menunjang tulisan juga menambah daya tarik tulisan itu sendiri. Materi ini disampaikan oleh Aa Nana Warsita pada pelatihan kedua yang diadakan pada 02 Februari 2019 di NOG Resto Jember. Meski kondisi hujan badai petir menyambar, hajaaarrr ajaaa! Demi bisa belajar. 😉

4
Materi Fotografi juga masuk dalam pelatihan.
5
Tak ada model, tak ada netbook, Tape Telo Ungu dan Wedang jahe pun jadi. Lumayan, bisa sekalian buat jualan. Hahahahaha.

Naaahhh…Yang paling aku suka adalah materi Personal Branding di Pelatihan minggu kedua. Bahkan di usia yang nyaris 30 ini, aku belum bisa membentuk diriku sendiri. Karena memang Personal Branding itu penting. Dan di pelatihan ini aku jadi tau kenapa itu penting dan apa-apa saja yang harus dilakukan untuk bisa membentuk citra diri kita di kalangan masyarakat pada umumnya ataupun di kalangan Blogger pada khususnya.

Pelatihan akan berlanjut lagi dan banyaaaaakkk lagi materi yang harus dipelajari untuk bisa menjadi Blogger yang bukan sekedar Blogger biasa. Tapi Blogger yang berkualitas. Masih ada materi tentang SEO, monetizing dll. Tetap semangat belajar! Jangan kasih kendor deeehh belajarnyaaa. Biar Blognya semakin berkualitas dan 2019 bisa naik level. Amiiiiinnnn.

Terima kasih untuk semua usaha dan ilmu yang sudah dibagikan selama Pelatihan Blogging ini ya Mbak Prita, Vindy dan Aa Nana. Benar-benar kesempatan emas di awal tahun 2019 yang bisa menunjang proses untuk naik kelas.

Advertisements

Dewi Pora Sukowono : Destinasi Wisata Bernuansa Asri Khas Pedesaan.

Ada yang sudah pernah main ke Dewi Pora? Salah satu destinasi wisata yang mulai dikembangkan yang terletak di Desa Pocangan Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember. Dewi Pora sendiri merupakan singkatan dari Desa Wisata Pocangan Outbond, River and Adventure. Awalnya Aku juga asing dengan nama Desa yang satu ini. Tapi karena waktu itu aku dapat tugas membawa rombongan wisatawan Tamasya Bus Kota ke wilayah Ledokombo – Sumberjambe – Sukowono, mau nggak mau aku harus menelusuri rute agar tidak bingung saat menjadi penunjuk arah bagi Driver nantinya.

8
Dewi Pora ini terletak tepat di samping Kantor Desa Pocangan, Kecamatan Sukowono.

Sengaja aku datang ke Pocangan 2 hari sebelum trip berlangsung. Beberapa kali mengantarkan wisatawan ke Rute Durian, aku masih was-was soal jalan. Belum terlalu hafal. 😁 Memang harus benar-benar nyetir sendiri baru bisa memahami jalannya. Itulah kenapa aku memutuskan naik motor melewati rute Kalisat – Ledokombo – Sumberjambe – Sukowono – Maesan – Jember Kota. Meski cukup jauh karena ini jalur memutar, tapi cara ini adalah yang paling ampuh untuk menghafal jalan. Trust Me! It works. Hahahaha. Buatku lah. Bisa berbeda bagi orang lain.

Awalnya, ketika Mbak Hasti, owner Tamasya Bus Kota bilang ada Mitra TBK di Pocangan, aku langsung tanya “Ada ya sentra batik disana?” Karena setauku yang terkenal adalah Sumberjambe. Sudah identik dengan Batik Tembakaunya. Aku langsung cari tau di internet. Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan seputar Batik Pocangan ini. Tapi aku menangkap satu informasi penting. Batik ini memiliki motif khas yaitu Daun Mronggi. Orang Jember menyebutnya begitu. Kalo orang umumnya lebih mengenal sebagai Daun Kelor.

Dari situlah aku semakin tertarik untuk datang ke Pocangan. Setelah kontak Mbak Anis sang pemilik Sentra Batik, keesokan harinya aku langsung mampir kesana. Sayangnya, aku belum bisa mendapatkan banyak materi untuk tulisanku. Karena selain rumah yang akan dijadikan pusat pembuatan batik belum 100% beres, batik-batik yang akan “disuguhkan” kepada wisatawan masih dalam proses desain, blat dsb. Sehingga masih belum bisa dijadikan bahan.

Akhirnya aku hanya mengobrol dan banyak bertanya seputar proses pembuatan batik tulis Pocangan. Mbak Anis yang juga merupakan Bidan Desa, menjawab pertanyaanku sambil mengawasi anak-anak muda yang sedang menggarap batik.

Aku kembali lagi ke Pocangan dua hari kemudian, dengan membawa rombongan yang mengikuti Trip Tamasya Bus Kota. Saat datang, suasananya sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Ada ruang khusus untuk wisatawan bisa mencoba melakukan proses pewarnaan dan ada ruang pajang yang memamerkan hasil karya batik tulis Pocangan dengan beragam motif. Tentunya tidak hanya dipajang. Tapi wisatawan bisa membeli batik-batik tersebut. Yang aku suka, warna batiknya sangat fresh. Cocok untuk anak-anak muda atau Ibu dan Bapak yang ingin terlihat tetap awet muda. Hehehehe.

15
Mbak Hasti Utami, Owner Tamasya Bus Kota bersama Ibu Fransiska, Ibu Daswati dan Mbak Yuni yang merupakan anggota rombongan TBK Rute Durian.
13
Ini contoh Batik Tulis yang sedang proses pewarnaan.
19
Yoga, salah satu pemandu yang mengajarkan cara mewarnai Batik kepada peserta rombongan.

Selain warna yang fresh, Batik Tulis Pocangan sebenarnya motifnya beragam. Selain motif utama daun kelor, ada juga motif tembakau dan bunga kertas. Motif bisa dikombinasikan menyesuaikan pemesan, kecuali batik jadi yang sudah dipajang. Memang, akhirnya motif daun kelor ini cukup menarik perhatianku. Dan saat aku tanyakan alasan memilih daun kelor, Mbak Anis mengatakan karena daun kelor itu mudah ditemui dan masih banyak ditanam disana. Selain itu, manfaatnya juga banyak. Selain bisa untuk sayur, juga bisa untuk obat (baik untuk kesehatan). Nantinya Mbak Anis akan berusaha menggiatkan masyarakat Pocangan untuk menanam pohon kelor di rumah masing-masing agar ini juga benar-benar bisa menjadi “Trade Mark” Desa Pocangan selain Batik Daun Kelornya.

16
Batik-batik tulis yang sudah siap dibawa pulang. Setelah bayar ke ownernya tapi ya. Hehehehe. Warna-warnanya fresh, cocok untuk pakaian formal maupun non formal.

Ada satu lagi nih yang menarik saat aku bawa rombongan kesini. Camilan murah meriah yang bikin orang yang liat jadi tergoda untuk membeli. Tape Telo Ungu. Kalau yang umum diketahui Tape itu terbuat dari singkong, nah yang ini bahan bakunya adalah Telo Ungu. Rasanya ternyata nggak kalah enak. Justru menurutku, yang menarik karena ini Telo. Ketika fermentasi belum sempurna, rasanya masih Telo Ungu, itu yang paling aku suka. Terksturnya masih kesat dan rasanya tidak terlalu masam. Masih dominan manis. Karena ketika sudah matang dan menjadi tape, memang rasa Telo Ungunya tidak hilang, tapi sudah dominan masam.

21
Tape Telo Ungu saat masih maron (setengah matang). Meski setengah matang, ini sudah bisa dikonsumsi. Hanya saja, rasanya masih dominan Telo Ungu dan manis.
22
Paling enak dimakan sore-sore saat hujan, ditemani teh hangat atau wedang jahe. 😀

Yang aku salut, Mbak Anis memang tidak hanya memiliki jiwa melayani masyarakat. Dia juga berjiwa entrepreneur. Tidak hanya Sentra Batik. Dia juga menggagas Dewi Pora. Desa Wisata Pocangan Outbound, River and Adventure yang sempat aku sebut di awal tadi. Dewi Pora merupakan sebuah tempat wisata terpadu yang tampilannya sederhana tapi menurutku cukup nyaman untuk menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga. Aman untuk yang punya anak-anak kecil juga nih. Disini kita bisa request pelaksanaan  outbond, piknik dan menikmati suasana sejuk khas pedesaan. Ada beberapa Gazebo yang disediakan untuk beristirahat, ada taman bunga yang bisa dimanfaatkan untuk selfie dengan latar belakang sawah, dan ada kolam pemancingan juga. Cocok ya. Bapaknya mancing, Ibunya sama anak-anak main di taman bunga, setelah itu bisa makan bekal di Gazebo yang tersedia.

3
Pemandangan menuju Dewi Pora. Segeeerrrr.
4
Area ini bagus untuk berswafoto (selfie) dengan latar belakang persawahan.
6
Area pemancingan. Memancing ikan ya. Bukan memancing keributan. Hihihihi.

Yang menyenangkan menurutku juga akses jalannya yang mudah, bagus, dan sepanjang perjalanan kita bisa melihat bentangan sawah yang menghijau. Dan bila beruntung (harus berangkat pagi sekitar jam 6 dari Jember Kota), kita bisa melihat pemandangan Pegunungan nan kokoh di depan mata. Gunung apa? Nanti Aku cari tau dulu ya. Hihihihi. Nah, buat yang ingin datang kesana dengan membawa anak-anak, bisa juga loh mampir di Pasar Sukowono. Karena disekitar sana masih ada beberapa Dokar yang dimanfaatkan masyarakat sebagai alat transportasi. Seru kan ajak anak-anak keliling pasar naik dokar? Dulu, waktu kecil, saat menghadiri pemakaman Kakek (saudara) yang tinggal di Sukowono juga aku ingat sekali betapa bahagianya bisa naik dokar. Karena di Kota sudah tidak ada.

12
Perjalanan pagi (pukul 06.00 dari jember Kota), menuju Sukowono masih bisa melihat pemandangan Gunung seperti ini.
11
Sepanjang jalan juga akan banyak sekali menemui sawah-sawah.
20
Di Pasar Sukowono kita masih bisa menemukan Dokar loh.

Kalau ingin datang ke Pocangan tanpa ribet membawa bekal, bisa mampir untuk makan di Terminal Sukowono. Ada warung-warung makan disana (memang didominasi warung bakso sih) yang salah satunya pernah aku datangi untuk beli sarapan. Bayangkan saja, makan satu mangkuk soto plus dua gelas kecil teh hangat, masih ditambah ngemil 4 dadar jagung tuh cuma bayar 13.000. Backpacker mah udah bahagiaaaaa dapet sarapan yang murah meriah. Soalnya kalo di Kota, uang segitu cuma dapat sotonya aja. Meski porsi memang tidak banyak, tapi aku suka karena sotonya ala-ala soto rumahan. Masih pake kentang yang diiris tipis-tipis lalu digoreng (duh kan jadinya pengen balik kesana lagi hahahaha) Oh iya, namanya Warung Bu Bakir. Bisa loh mampir kesana. Menunya beragam pula. Mulai soto, lalapan, nasi pecel, nasi campur dsb  😍😍😍

10

9
Makanannya enak dan murah meriah. Boleh mampir kalau kamu ke Dewi Pora. 😉

Gimana? Masih bingung weekend besok mau kemana? Coba aja datang ke Dewi Pora. Lumayan laaahh untuk “penghijauan” alias menyegarkan mata, pikiran dan hati juga tentunya. Biar nggak capek mikirin pekerjaan terus. Hehehehe. Kalau datang hanya sekeluarga, bisa kontak Aku untuk dihubungkan ke Mbak Anis. Tapi kalau rombongan, biasanya waktunya ditentukan terlebih dahulu.

Jangan lupa masukkan Dewi Pora ke list kunjungan saat berlibur yaaa. Dijamin suka sama suasana desa yang masih asri. 😊😊😊

Menikmati Suasana Jember “rasa” Jimbaran di Pantai Tengah (Part 2)

     “Buat apa sibuk mencari yang sempurna kalau yang sederhana saja bisa membuat kita bahagia?” Remeh ya kedengarannya? Tapi kata-kata ini punya makna yang dalam dan bikin aku beberapa kali merenung. Aku selalu sibuk mencari tempat-tempat yang menurut banyak orang bisa menjadi tujuan kita untuk melepas penat, menghilangkan gundah gulana termasuk sak galau-galaunya (eh tapi kalo ini kayaknya khusus penulis Blognya aja deh. Hahahaha). Aku lupa kalau sebenernya Jember itu punya banyak tempat indah yang belum dimaksimalkan.

6
Sederhana itu indah. Seindah Sunset di Pantai Tengah.

     Padahal sebenarnya Jember menyimpan banyak sekali potensi pariwisata yang bisa dikembangkan untuk bisa menjadi sesuatu yang membanggakan. Tapi mana? Sampai sekarang yaaaa masih adem ayem juga siiihh. Kalau aku lebih sering pergi ke “Negeri Seberang” naik Kereta odong-odong yang pulang pergi harganya lebih murah daripada harga lipstiknya Mbak-Mbak SPG di Mall. Aku berkali-kali membandingkan memang. Terlalu sibuk membandingkan sampai aku lupa memikirkan “Apa yang sudah kamu perbuat untuk Jember tercinta Fev?” Nothing. Aku nggak melakukan apa-apa.

2
Salah satu potensi pariwisata Jember yang terletak diantara Pantai Payangan dan Pantai Watu Ulo yang belum banyak diketahui bahkan oleh Masyarakat Jember sendiri.

     Dan perenungan itu yang membuat aku akhirnya belajar untuk mencintai apa yang sudah ada. Melakukan perjalanan demi perjalanan ke tempat-tempat yang biasa namun diperlakukan dengan luar biasa. Banyak yang bertanya “Kenapa kamu selalu ikut Launching Trip yang diadakan oleh Tamasya Bus Kota?” Lebih banyak lagi yang menilai ini endorsement, mengira aku dapat seat gratis, mengira ini dan mengira itu. Mereka sibuk sekali mengira-ngira. Padahal yang sebenarnya, aku selalu ikut karena itu adalah salah satu bentuk kontribusiku untuk Jember. Kalau Mbak Hasti sebagai pendiri TBK memberikan kontribusi positif dengan membuka atau mengembangkan potensi pariwisata Jember melalui Tamasya Bus Kota, yah anggap aja dia sopirnya, aku yang jadi kernetnya. Hahahahaha.

     Eits jangan berfikir yang macam-macam dulu ya! Aku ngetripnya selalu bayar lunas kok. Nggak nyicil apalagi minta gratisan (Alhamdulillah). Cuma maksudnya tuh setelah mengikuti trip TBK aku menuliskan sebuah catatan perjalanan melalui Blogku. Ya karena memang aku bisanya nulis. 😀 Mencoba menceritakan tentang potensi pariwisata Jember melalui tulisan. Dan perantaranya adalah Tamasya Bus Kota. Sebuah Komunitas Berbasis Masyarakat yang dibuat dan dikelola oleh pemuda pemudi Jember sebagai sukarelawan serta dipersembahkan untuk masyarakat Jember dan sekitarnya. Sebenarnya tujuannya cukup sederhana tapi menurutku cukup mulia. Mengajak masyarakat Jember untuk mencintai kotanya sendiri.

     Mungkin sudah lebih dari 5x aku ikut Trip TBK. Ibarat kata kalo orang Jawa bilang “Nek nduwe duit yo budhal, nek ora nduwe duit yo dionok-onokno, leles duit receh ben iso tetep budhal” hahahahaha agak maksa sih ya, jadi jangan ditiru. Tapi ya begitulah kenyataannya. Karena kalau aku nggak jalan-jalan atau nggak aktif ikut kegiatan, aku nggak punya bahan tulisan. Blogku awalnya memang sengaja aku isi dengan catatan perjalananku ke tempat-tempat wisata yang pernah aku singgahi. Meski akhirnya malah jadi gado-gado alias campur-campur, tapi memang ketertarikanku masih lebih condong ke wisata, perjalanan, atau bahasa kerennya traveling lah ya 😀 Dan dari perjalanan yang aku ikuti bersama TBK inilah yang beberapa diantaranya aku tulis.

8
Pintu masuk lokasi Sunset Dinner yang digagas oleh Tamasya Bus Kota. Ini merupakan salah satu Mitra TBK.
7
Selain di Pantai Nyamplung Kobong, sunset disini menurutku juga sangat indah.

     Beberapa waktu lalu aku sempat menuliskan artikel yang berjudul ‘Menikmati Suasana Jember “rasa” Jimbaran di Pantai Tengah (Part 1)’ tau dong ya kenapa ada Part 1? Ya karena udah pasti bakal ada kelanjutannya. Emang film horror atau Box Office Amerika aja yang berkelanjutan? Artikelku juga boleh lah biar kayak film Dilan yang ada Dilan 1990 sama 1991 itu 😉 Kenapa aku masih pengen lanjutin ceritanya? Ya karena belum puas. Belum lega. Masih ada yang belum selesai kayak perasaanmu ke mantan mungkin? (Mungkin, nebak aja lo ya. Jangan dibawa perasaan).

     Nah di artikel Part 2 ini aku cuma pengen iming-iming sih. Karena kalo sekedar share rasanya kurang seru. Dijamin, setelah liat foto-foto di artikel ini, kamu bakal berbondong-bondong merengek ke pacar kamu (tapi kalo punya :P) atau pasangan kamu “Ayo dong kesini. Romantis banget ini” Sebenernya sih, romantis-romantisan itu bisa dimana aja. Kapan aja. Di rumah sambil nonton TV juga bisa. Tapi mendapatkan momen romantis dengan view terbaik itu, menurutku Pantai Tengah ini bisa jadi sasaran utama. Ini berdasarkan pengalaman. Anu, maksudnya pengalaman motrek pasangan-pasangan romantis disini. Hihihihihihi. Dilarang protes lho ya meskipun tau aku ngomongnya sok-sok ngasih wejangan padahal romantis-romantisan yo ora tau. 😛

     Salah satu keuntungan sering ikut trip TBK tuh, akhirnya jadi kenal sama seluruh crew yang biasanya handling tour maupun yang ada di balik layar. Termasuk dengan pendiri TBK. Kadang Mbak Hasti nggak Cuma ngajakin nongkrong di Cafe, tapi juga di tempat-tempat wisata atau tempat-tempat yang akan dibuka aksesnya agar masyarakat Jember juga bisa menikmati. Nah, kalau biasanya Mbak Hasti yang sibuk handling tour atau mengawasi crew yang bertugas, beberapa waktu lalu memang sengaja ambil “me time” untuk Private Sunset Dinner di Pantai Tengah.

3
Makan dengan suasana seindah ini? Yakin nggak kepengen? Nggak perlu jauh-jauh ke Jimbaran! Di Jember pun bisa. 🙂
5
Momen yang bikin speechless bagi para sunset hunter.

     Sekarang aku mulai paham kenapa Trip ini diberi nama Sunset Dinner : The Hidden Beach of Watu Ulo. Bisa dilihat betapa menakjubkannya ciptaan Tuhan. Betapa kita harus bersyukur kita punya Pantai dengan view yang sebegitu elok. Itulah kenapa aku kadang berfikir agar tidak terlalu fokus pada kekurangan, tetapi fokus pada bagaimana membuatnya lebih baik dan memanfaatkan kelebihan yang sudah ada. Memang sih, menunggu sunset seperti ini hampir sama seperti ketika menunggu jodoh. Hanya akan datang di waktu dan tempat yang tepat (eheemmm). Ya kalo nggak pas jamnya, atau nggak pas kondisinya misalnya mendung atau terlambat datang, nggak akan seindah ini. 😀

     Sebelum ikut trip TBK aku nggak pernah tau soal tempat ini. Datang ke Payangan pun hanya hanya sekitar 3 kali, sekali naik bukit. Ke Watu Ulo mungkin hanya satu atau dua kali karena disana tidak menarik menurutku, kecuali tentang Legendanya. Tapi di Pantai Tengah? Perbatasan antara Pantai Payangan dan Watu Ulo yang begitu indah saat senja ini bener-bener deh. Menawan hati. Sampe bikin susah move on saking berkesannya. Nah ini beberapa foto saat Private Sunset Dinner di Pantai Tengah beberapa waktu lalu. Momennya pas, sunsetnya bener-bener indah. Eh tapi itu modelnya Mbak Hasti. Kalo ada yang nanya aku dimana, aku ada di balik layar aja kok. Lagi bantuin Cak Sukri nyiapin makanan 😛

9

     Gimana? Jangan Cuma bayangin “Kapan bisa ngerasain Sunset Dinner kayak gini ya?” Udah langsung ikut Trip Tamasya Bus Kota aja! Aku udah ikutan. Kamu kapan? 😉

Gunung Gambir Tea Walk and Adventure : Amazing Trip!

     Sekitar akhir bulan Oktober lalu, aku dan sahabatku merencanakan liburan singkat bersama teman kantor ke Perkebunan Teh Gunung Gambir yang ada di Kecamatan Sumberbaru, masih dalam wilayah Kabupaten Jember tapi berbatasan dengan Kabupaten Lumajang. Menjelang detik-detik keberangkatan, kami terpaksa membatalkan rencana liburan kami karena satu dan lain hal (ini bahasanya udah serius banget hehehe).

     Kebetulan, aku suka memang suka main ke Perkebunan. Itu sering aku lakukan sejak bergabung di Divisi Marketing Kantor Pusat PT Rolas Nusantara Medika (Anak Perusahaan dari PT Perkebunan Nusantara XII yang bergerak di bidang jasa layanan kesehatan). Nggak jarang juga aku mengunjungi Perkebunan-Perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara XII maupun rekanan lain yang merupakan Perkebunan Swasta di wilayah kerja Unit Usaha PT Rolas Nusantara Medika. Baik itu dalam rangka kunjungan dinas atau refreshing di luar dinas atau saat hari libur.

    Beberapa waktu setelah aku membatalkan liburan singkat ke Gunung Gambir, aku lihat postingan Mbak Hasti Utami, pendiri Tamasya Bus Kota yang sedang melakukan survey bersama orang-orang Dinas Pariwisata Kabupaten Jember. Mereka akan merealisasikan Trip khusus ke Perkebunan Teh Gunung Gambir. Dan waktu dishare kalau tanggal 17-18 November adalah Launching Trip Gunung Gambir, tanpa pikir panjang aku langsung daftar. Meski harganya jauh lebih mahal dari semua Trip yang ditawarkan Tamasya Bus Kota, aku nggak perlu berpikir ulang. Karena kali ini peserta trip juga akan menginap di Homestay yang sebenarnya merupakan mess Manager Perkebunan yang dimanfaatkan untuk penginapan. Naaahhh ini favorit aku banget. Bangunan berarsitektur Belanda.

4
Rumah Belanda selalu menjadi tempat favorit. Bagus dan “fotogenic” 🙂 Ini merupakan Homestay tempat rombongan kami menginap.

    Satu lagi pertimbanganku kenapa langsung ambil bagian dalam trip ini, karena dengan menginap, kita bisa menikmati suasana kebun teh yang masih sepi dari pengunjung dan hawa yang masih sejuk, segar dan asri. Memang, hampir di semua trip yang dilaunching oleh Tamasya Bus Kota, aku selalu ikut. Untuk bahan tulisan di Blog ini. Kalau kata Trinity penulis buku “The Naked Traveler”, Travel writer itu kalau nggak jalan-jalan ya nggak punya bahan buat ditulis. Meski Blog ini masih gado-gado juga sih isinya. Hehehe.

    Singkat cerita, akhirnya hari Sabtu tiba. Semua peserta trip diminta berkumpul di Kantor Tamasya Bus Kota di Perumahan Kebon Agung Indah. Pukul 14.15 kami berangkat menggunakan Elf. Peserta yang berangkat ada sekitar 16 orang. Trip ini berlangsung tanggal 17 – 18 November 2018. Kami melewati perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Meskipun masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Jember, tapi perjalanan kami terhitung lama.

    Pertama, Sumberbaru merupakan wilayah perbatasan Jember dengan Lumajang. Kedua, kondisi jalan yang memang belum sepenuhnya bagus membuat kendaraan harus melaju lebih lambat. Sebagian jalan menuju Perkebunan memang sudah diaspal. Muluuuusss. Bahkan, selama perjalanan aku tidur saking mulusnya jalanan kesana. Hahahaha. Tapi sebenernya memang lagi ngantuk berat. Separuh alasannya lagi karena orangnya tipe pelor alias nempel molor. 😀 Tapi mata dan badan mulai nggak bisa kompromi ketika mulai memasuki jalan makadam yang jarak tempuhnya sekitar 5 – 6 Kilometer dari jalan yang sudah selesai diaspal. Untungnya, siang itu cerah nggak turun hujan. Bahkan, kami dibuat takjub dengan pemandangan sunset di perkebunan teh saat kami melintas. Nggak bisa bayangin aja kalau hujan, mendung, gelap, dan mungkin bisa lebih lama lagi karena jalanan licin.

5
Meski sedikit terlambat, kami masih mendapati momen senja yang cantik. Hasilnya bergerak karena difoto dari dalam mobil.

    Pukul 17.15, kami tiba di Homestay milik PTPN XII. Kami disambut oleh Pak Heru selaku Wakil Manajer Perkebunan dan beberapa orang yang ikut membantu mempersiapkan keperluan untuk rombongan, termasuk Ibu-Ibu yang mempersiapkan makan malam. Selepas menaruh barang di kamar masing-masing, lalu kami duduk-duduk sejenak sambil menikmati Teh Rolas. Pihak PTPN XII memang hanya menyediakan Teh Rolas Premium yang merupakan produk teh mereka.

    Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan Teh ini. Karena sering mendapat dari Senior di kantor. Untuk semua Pegawai Tetap di PT Rolas Nusantara Medika yang merupakan anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara XII, setiap bulan mereka dapat Teh Rolas dan Kopi Robusta Ijen (tapi ini nggak gratis, kayaknya sih beli sendiri. Kalo aku biasanya dapat gratisan dari senior hehehehe)

    Selepas minum teh, kami tetap berkumpul di ruang tengah untuk makan malam. Menunya sederhana ala pedesaan. Ada tahu goreng, telur dadar, sayur pakis dan satu menu khas yang memang diminta khusus untuk peserta trip kali ini yaitu trancam daun teh. Sebenarnya ini mirip trancam biasa. Ada kacang panjang mentah, timun, kelapa. Yang membedakan adalah daun teh yang juga dijadikan bahan untuk trancam ini. Rasanya enak. Apalagi dipadukan sambal. Hmmmmm makin sip rasanya. 😀 Selepas makan malam kami duduk santai, masih di ruang tengah. Mengobrol dan berkenalan satu sama lain. Tentunya ditemani teh hangat. Meski memang sebagian mulai masuk kamar karena lelah dan ingin beristirahat.

3
Suasana saat makan malam.

    Tau nggak apa yang menarik saat stay disini? Nggak ada Televisi, nggak ada radio, daaaannn susah sinyal. Hahahaha. Lengkap sudah. Menurutku, ini suatu kondisi yang menyenangkan dan sulit didapati di Kota. Kami bisa melakukan hal yang lebih menyenangkan, mengobrol sepanjang malam. 🙂 Menyenangkan bisa mengenal orang-orang baru dalam trip kali ini. Meskipun notabene, secara umur rata-rata mereka jauh lebih tua. Padahal, dalam trip-trip lainnya aku sangat jarang berinteraksi dengan sesama peserta trip. Aku lebih senang menyendiri, bermain handphone, mendengarkan musik atau berkeliling mencari objek foto. Mengobrol dengan orang-orang tertentu dan seperlunya saja. Tapi di trip kali ini sangat berbeda. Mungkin karena kami juga punya lebih banyak waktu untuk bersantai.

    Bahkan aku, Mbak Hasti dan beberapa peserta trip perempuan memilih tidur lebih larut karena asik bercerita di halaman Homestay. Sesekali kami berfoto bersama. Kondisi malam itu memang kabutnya cukup tebal dan beberapa kali turun hujan meski sempat berhenti, hujan lagi, berhenti lagi (aku bilang hujannya sedikit galau, kayak aku yang diam-diam suka ngintip Mbak Ida Susanti salah satu peserta Trip yang selalu mesra dengan pasangannya selama trip. Apalagi memang pas malam minggu. Hihihihihi). Pukul 02.15 aku dan Mbak Hasti memanfaatkan sisa waktu untuk istirahat sebentar karena pukul 05.00 kami sudah harus turun ke Perkebunan Teh untuk Tea Walk and Adventure sebelum kembali pulang.

7
Ini lo yang bikin galau, udah kayak hujan pas malam minggu kemarin di Gunung Gambir. Hihihihihi. Tapi, akan selalu ada pasangan-pasangan fenomenal di setiap trip. 😀

    Pukul 05.00 kami turun ke Perkebunan menggunakan Elf. Sesuai bayanganku, kebun masih kosong, suasana masih sejuk dan segar, momennya pas. Bener-bener refreshing. Nggak kayak yang ada di sosial media sekarang, yang ketika foto disini pengunjungnya super penuh (bahkan jembatang yang peraturannya maksimal untuk 25 orng saja, dinaiki lebih dari itu). Disini kami bebas berfoto. Cukup lama kami punya waktu untuk berfoto sendiri, berpasangan dan beramai-ramai. Semua sudah dicoba sampai sekitar pukul 06.30 satu per satu pengunjung mulai memasuki area perkebunan teh.

6
Jembatan menuju Tea Star. Kalo masih sepi begini, hawanya masih sejuk, bener-bener refreshing. Bukan sekedar eksis. Hehehehe.
8
Spot selfie di dekat gardu pandang.
9
Segarnya menatap hamparan hijau perkebunan teh Gunung Gambir.

    Kami memutuskan kembali ke Homestay untuk sarapan. Menunya masih sama, ala pedesaan. Di dekat penginapan sudah mulai ramai pedagang yang menjual makanan, minuman, gorengan, hingga makanan ringan seperti cilok dan sempol. Dan, kalau kesini, jangan sampai nggak coba jajanan khas yang cuma bisa ditemukan disini. Nangka goreng. Enaaaakkkk. Aku habis lumayan banyak, padahal sudah sarapan. Hehehehe. Hari Minggu, banyak orang pergi kesini untuk berenang. 

    Berenang? Iya. Berenang. Sedikit berjalan turun dari Homestay ada kolam renang Rengganis yang airnya terlihat hijau bersih. Sebenarnya Mbak Hasti sudah memberitahu semisal ada peserta trip yang ingin berenang, memang diperbolehkan. Tapi setelah sarapan peserta trip memilih untuk langsung berkeliling ke sekitar Homestay untuk mengetahui informasi seputar teh dan eks pabrik teh Gunung Gambir yang sudah tidak beroperasi. Kami ditemani Pak Mulyono, Guide lokal dari PT Perkebunan Nusantara XII. Beliau yang memberikan informasi-informasi seputar teh dan pabrik teh. Saat kami berkeliling mengikuti Pak Mulyono, pengunjung semakin ramai. Ada yang memang mau berenang, ada yang sekedar piknik bersama keluarga, ada juga yang hanya sekedar jalan-jalan sambil memanfaatkan spot selfie yang memang baru saja dipasang hari Sabtu ketika rombongan kami tiba di Homestay.

15
Kolam Renang Rengganis di dekat Homestay.
1
Proses pemasangan spot selfie di depan Homestay.

10

“Buat apa mencari yang sempurna kalau yang sederhana bisa membuat kita bahagia?” Piknik bersama keluarga, murah meriah sudah bahagia. 🙂

11
Pernah lihat Emak-Emak piknik? Bawaannya ngalahin yang jualan di depan Homestay loh ini. Hehehehehe.

 

     Selepas berkeliling, kami beristirahat sebentar dan memulai petualangan dengan mobil perkebunan. Menurutku, dari semua bagian trip kami, ini yang paling seru. Kami pulang dengan perasaan campur aduk. Senang, puas, dan lega (karena bisa teriak-teriak hehehe). Gimana nggak teriak-teriak? Jalur yang kami lalui bisa dibilang cukup ekstrim. Kami tidak pulang melalui jalur umum, untuk menghindari kemacetan. Karena itulah kami dibawa melewati jalur yang membentangkan pemandangan kebun teh. Pokoknya nggak bisa digambarkan deh. Sampe sekarang rasanya susah move on. 😀

16
Pak Mulyono, Guide lokal yang merupakan Karyawan PTPN XII sedang menjelaskan tentang proses memetik daun teh.

    Banyak bersyukur karena bisa menikmati Trip ekslusif kayak gini. Mahal? Menurutku nggak sih. Masih dalam taraf wajar. Karena kita kesana naik kendaraan bagus, menginap di tempat yang nyaman, dijamin urusan makanannya, bisa ngerasain teh Rolas, dan pastinya bisa berpetualang. Dengan apa yang didapat, mungkin itu termasuk murah. Tapi ini menurutku sih. Karena setiap orang berbeda-beda. 🙂

    Tapi, dari semua trip Tamasya Bus Kota yang pernah aku ikuti saat launchingnya, dua terfavorit atau yang paling recommended adalah Sunset Dinner Watu Ulo (Pantai Tengah) dengan suasananya yang seperti Jimbaran Bali, dan juga Gunung Gambir Tea Walk and Adventure. Pokoknya nih, Gunung Gambir Tea Walk and Adventure ini bener-bener Amazing Trip!

    Semoga bisa ketemu di Launching Trip Tamasya Bus Kota yang lain ya. 😉

Cocofest 2018, Apresiasi Bank Mandiri Bagi Content Creator Indonesia.

     Bank Mandiri kembali menggelar event bergengsi, Cocofest (Content Creation Festival) Indonesia 2018. Coco Festival Indonesia merupakan wadah bagi anak-anak muda, content creator Indonesia untuk berlomba menunjukkan kemampuannya dalam membuat konten-konten terbaik mereka. Event ini telah berakhir seiring dengan digelarnya acara puncak yang juga merupakan malam penghargaan yaitu Cocofest Award. Acara yang digelar meriah itu dilaksanakan bertepatan dengan hari Pahlawan 10 November lalu di Monumen Kapal Selam Surabaya. Dipilihnya Surabaya sebagai Kota penyelenggaraan, tidak lepas dari sejarah perjuangan Bung Tomo dan Arek-Arek Suroboyo dalam mengusir penjajah. Hal ini sesuai dengan tema yang diusung dalam Cocofest 2018 ini, Spirit of Millennials “Tribute to Heroes”.

1
Event Cocofest Indonesia yang pertama ini digelar di Monumen Kapal Selam Surabaya.
2
Sebelum gate dibuka, mampir dulu ke Monumen Kapal Selam.

     Masih lekat rasanya kemeriahan acara ini. Karena tidak melulu diisi dengan acara hura-hura semata, tapi semua yang hadir juga dapat menimba ilmu dari para content creator yang sudah tidak asing lagi bagi anak-anak muda. Selain itu, juga ada bazaar UMKM di creative market yang berada tepat di bagian depan sebelum pintu masuk menuju venue acara.

     Yang menarik buatku adalah stand UMKM yang menawarkan berbagai jenis barang seperti batik, bantal, aksesoris, minyak esensial, bumbu dan camilan, sampai sabun organik. Tapi yang paling menarik adalah stand aksesoris Madhia yang menawarkan dua jenis barang berbeda yaitu aksesoris dan berbagai snack serta bumbu-bumbu. Ternyata, snack chocolate in jar kemudian bawang hitam, hingga bumbu rujak merupakan hasil produksi dari masyarakat eks dolly yang diberdayakan pemerintah Surabaya. Biasanya mereka mendisplay barang-barang tersebut di DS (Dolly Saiki) Point. Salut buat mereka. 🙂

4
Stand-stand yang ada di Creative Market.
5
Salah satu stand yang menjual essential oils.
6
Maidha, salah satu stand yang menawarkan aksesoris
7
Maidha juga memamerkan produk-produk dari masyarakat ex Dolly. Ada beragam produk yang ditawarkan.

      Cocofest diawali dengan pelaksanaan lomba content creation baik itu berupa foto, video, animasi, poster atau komik strip. Beragam karya kreatif, unik dan menarik masuk dan akhirnya dipilih 100 finalis. Setelah masa penjurian berakhir, para finalis diundang langsung untuk hadir pada Cocofest Award 2018. Dalam acara ini tidak hanya finalis Cocofest Award saja yang menerima penghargaan. Tetapi juga pemenang Kisah Inspiratif Mekaar.

     Masih terngiang-ngiang dengan keseruan acaranya. Padahal sudah lewat beberapa hari yang lalu. Selain dihadiri oleh finalis, juga ada ribuan Millennials BUMN. Baik perbankan seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN, juga ada PT PP, Pelindo III, PT Perkebunan Nusantara XI dan banyak lagi. Yang menarik, sesuai temanya yaitu Spirit of Millennials “Tribute to Heroes”, sebagian besar yang datang memakai pakaian sesuai dresscode yang sudah ditentukan yaitu bertema perjuangan. Ada yang memakai pakaian pejuang, pakaian tentara, pakaian dokter, pakaian rakyat Jawa hingga petani. Dari begitu banyak yang datang dengan kostum-kostum menarik itu, ada beberapa yang tertangkap kamera menggunakan kostum seperti Presiden RI yang ke-1 yaitu Presiden Soekarno. Sampai-sampai saking menariknya, laris jadi model foto. Hehehehe.

3
Gimana? Mau diperjuangkan sama mereka nggak? Hehehehehe. Tiga dara cantik ini berdandan ala pejuang saat event Cocofest Award digelar.
8
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Ada yang berdandan ala Dokter, Presiden Soekarno, Pahlawan bahkan Tentara Jepang.
101.jpg
Kompak menggunakan kostum ala masyarakat Jawa.
18
Meskipun Blogger Squad Jawa Timur nggak pake dresscode, tapi tetep boleh eksis dong? 😀
17
Biar kayak Millennials BUMN lainnya.

     Acara dibuka sore hari sekitar pukul 15.30 oleh MC yang sudah tidak asing lagi, Boy William yang didampingi Septi. Sebagai pemanasan, dan juga tambahan ilmu untuk para Millennials BUMN, diadakan Talkshow bagaimana membuat konten sosial media yang menarik. Pematerinya sudah tidak asing lagi yaitu Aries Lukman dan Koko Jiwa yang lebih dikenal dengan Inijie sesuai akun Instagram miliknya. Bekal yang cukup bagus untuk para finalis dan seluruh undangan yang hadir. Entah yang sudah sering membuat konten kreatif maupun yang masih pemula. Pembukaan yang cukup menarik.

9
Talkshow yang menghadirkan Aries Lukman dan Koko Inijie sebagai narasumber, untuk berbagi informasi bagaimana membuat konten yang menarik.

     Untuk lebih menyemarakkan acara, ditampilkanlah Soulfull yang sukses membuat baper (terutama yang nulis hehehehe) dengan lagu-lagu yang dibawakan. Ada beberapa lagu yang dibawakan baik dari Manca Negara maupun dari penyanyi Indonesia. Beberapa diantaranya adalah lagu-lagu Kahitna yang dimedley, juga lagu milik Glenn Fredly. Penonton yang tadinya mulai asik menikmati penampilan atraktif Soulfull dengan lagu-lagu up beat, dibuat sedikit rileks sambil bernostalgia. Penampilan yang sangat menghibur terutama disaat-saat semua sedang deg-degan menanti kehadiran Ibu Menteri BUMN Ibu Rini M. Soemarno.

     Dan tidak hanya memanjakan pengunjung yang datang untuk mengetahui pemenang Cocofest 2018 dengan acara yang menarik, di area pelaksanaan acara juga ada puluhan stand makanan khas Suroboyo dan berbagai jennis minuman. Bahkan juga terdapat beberapa foodtruck yang menyediakan snack dan juga minuman. Jadi benar-benar dimanjakan dan nggak perlu berjalan ke Mall sebelah untuk mengisi perut atau saat haus karena tinggal memilih saja ingin makanan dan minuman mana, dan membayar dengan kupon khusus event Cocofest.

     Suasana venue semakin meriah ketika Ibu Rini M. Soemarno dan beberapa pejabat BUMN datang. Terutama saat naik ke panggung untuk memberikan penghargaan kepada pemenang Cocofest 2018 dan juga pemenang Kisah Inspiratif Mekaar. Untuk pemenang Cocofest Indonesia 2018 terbagi dalam 4 kategori sesuai pembagian kategori di awal yaitu Nature, Infrastruktur, Transportasi dan Lifestyle. Dan untuk masing-masing kategori diambil 3 pemenang untuk Mahasiswa, Non Mahasiswa dan Santri. Selain itu juga ada The Most Favourite yang ditentukan dari pilihan masyarakat berdasarkan vote yang telah dihimpun di sosial media, dan juga Best of The Best.

13
Momen ketika Ibu Rini M. Soemarno yang didampingi pejabat BUMN menunggu untuk naik ke atas panggung dan memberikan hadiah kepada para pemenang.
16
Nah ini dia pemenang Cocofest Indonesia dan Kisah Inspiratif Mekaar.

     Setelah pemenang Cocofest Indonesia diumumkan, Bu Rini memberikan sedikit sambutan dan motivasi bagi Millennials BUMN. Beliau ingin agar anak-anak muda di BUMN berperan aktif dalam menciptakan BUMN yang semakin maju dan berkembang sesuai perkembangan zaman. Sambutan dilanjutkan dengan teatrikal untuk memerangi hoax yang saat ini sedang merajalela. Agar kita kaum muda lebih berhati-hati terhadap segala bentuk berita yang ada yang lebih teliti untuk membedakan mana yang fakta dan mana yang hoax. Ambil yang positif, buang hal-hal yang negatif.

15
Ibu Rini saat memberikan sambutan, didampingi MC Boy William. Dan saking gemetarnya, hasil foto blur semua. Baiklah, mungkin karena ada Boy William. Hihihihi.

     Selepas Ibu Rini dan rombongan pejabat BUMN yang mendampingi turun panggung, acara pamungkas yang pasti sangat ditunggu-tunggu (termasuk aku juga niiihhh hehehe) yaitu penampilan dari Rinni Wulandari dan Kenny Gabriel. Duuuuuhhh bener-bener atraktif dan menjadi penutup yang kereeennnn. Beberapa lagu lawas yang dibawakan kembali dengan sentuhan musik yang berbeda, membuat lagu-lagu yang dibawakan Rinni terasa lebih fresh. Dan nggak terasa tiba-tiba sudah membawakan beberapa lagu di atas panggung. Nggak rugi deh ada di Monumen Kapal Selam untuk menyaksikan Cocofest Award 2018, yang merupakan ajang penghargaan baru dan bentuk apresiasi terhadap content creator muda Indonesia.

Garden Homestay, Penginapan Murah, Nyaman dan Tenang di Tengah Kota Banyuwangi.

     Buat aku yang tinggal di Jember, main ke Banyuwangi itu ibarat Oase di tengah gurun. Iya. Pas pengen liburan, kalo ke Jogja kejauhan. Mau ke Bali males nyeberangnya. Alternatif itu ya Banyuwangi. 16.000 rupiah, 3 jam, sampai.

     Selain murah meriah, main ke Banyuwangi itu banyak yang menyambut. Udah berasa artis kan ya pake disambut. Hahahaha. Maksudnya ada beberapa teman yang bisa dikunjungi lah. Biasanya aku kesana kalo mau mampir ke lapak baca Semenjana. Kalo ke Banyuwangi itu bisa pilih pantai yang disuka. Iya, jujur aku lebih suka mantai daripada muncak. Dan nilai plusnya Banyuwangi tuh, Pantai di Banyuwangi Kota ada beberapa yang bisa didatangi. Dan sunrisenya kereeeeennn. Itulah kenapa Banyuwangi dijuluki The Sunrise of Java.

    Kalo ada yang suka nanya “Emang di Jember nggak ada Pantai? Nggak ada tempat wisata?” Ada dong. Tapi buat sampai ke Pantainya itu yang agak males. Hihihihi. Naik motor antara 45 menit sampai 1 jam. Pegel duluan apalagi nyetir sendiri. Kalo dibonceng masih boleh laaahh dipertimbangkan main ke Pantai. 😛 Di Jember, aku lebih suka nongkrong di Cafe atau nyari tempat main yang tenang.

   Kebetulan memang beberapa hari lalu terima undangan dari Jenderal Besar, Bapaknya Semenjana. Wajib datang dong. Karena mereka selalu baiiikkk banget. Pokoknya kalo pas ke Banyuwangi selalu siap bantu aku yang terhitung musafir alias “tamu jauh”. Hehehehe. Semenjana ini semacam wadah bagi sekumpulan anak-anak muda yang peduli dan berusaha menumbuhkan minat baca bagi anak-anak Banyuwangi sejak dini. Setiap hari Minggu, mereka selalu menggelar lapak baca di Taman Blambangan.

    Aku udah nyiapin beberapa hal buat berangkat ke Banyuwangi. Terutama amplopannya. 😀 😀 😀 Naik kereta odong-odong yang murah meriah itu. Rencananya bareng sama salah satu sahabat. Tapi karena missed communication (aduh bahasanya sok iyes hahahaha), akhirnya aku berangkat sendirian. Dan tau lah yaaaa apa yang terjadi selanjutnya? Iya, bener banget! Bingung cari temen buat diajakin kondangan. Duh mblooo nasibnya. Hahahaha. Lalu intip-intip phonebook. Ajakin temen lama waktu kerja di KAI. Eeehhh ternyata rumah dia jauh dari kota. Skip. Cari lagi. Untungnya, salah satu sodara ada yang free malam itu. Alhamdulillaaahh. Lega rasanya. 😛

     Sampai di Banyuwangi aku sengaja mampir ke salah satu Cafe favorit. Letaknya nggak jauh dari Stasiun. Aku memutuskan jalan kaki. Capek sih. Tapi kapan lagi bisa ngerasain jalan kaki? Momen langka ini cuma bisa didapatkan kalo lagi main keluar kota. Karena kalo di Jember ngeliat aku jalan kaki itu lebih langka lagi. Nggak pernah bahkan. Saking malesnya. Kan ada motor? 😉

   Lumayan lama menghabiskan waktu di Palm Sugar Cafe. Istirahat, ngemil, minum yang seger-seger, dan baca buku. Sambil nunggu waktu buat masuk penginapan. Siang menjelang sore, aku naik ojek ke kota. Penginapan tempat aku istirahat namanya Garden Homestay. Sebenernya disini bukan cuma Homestay aja, tapi juga ada kamar kost. Letaknya strategis di tengah kota, dekat kantor pemerintahan dan berbagai macam kantor lainnya, juga dekat pusat perbelanjaan. Tapi disini suasananya tenang. Tidak sulit mencari Garden Homestay. Letaknya di seberang Pengadilan Agama Banyuwangi.

8
Tepat di seberang Pengadilan Agama Banyuwangi kamu bisa melihat Neon Box ini. Masuk saja ke gangnya, kamu bisa menemukan Garden Homestay.

     Sesuai dengan namanya, Garden Homestay, di sekitar penginapan ini masih bisa ditemui pepohonan rindang, berbagai macam tanaman dan hewan-hewan peliharaan yang ada dalam kandang. Apalagi pas baru sampai sana, sorenya disambut hujan. Segeeeerrrr dan teduh rasanya. Karena setelah beberes barang-barang di kamar, aku sempat turun dan menikmati suasana selepas hujan sebelum pergi ke depan gang untuk beli makan. Seneng banget sama tempat ini. Karena meskipun letaknya di tengah kota, tapi tetap tenang dan nyaman. Dan yang lebih menyenangkan lagi waktu liat ada bangunan TK di tenagh Homestay. Lepas anak-anak pulang sekolah, taman bermainnya bisa dimanfaatkan oleh anak-anak dari penyewa kamar Homestay untuk bermain.

2

3
Suasana di halaman sekitar Hoemestay. Kalo habis hujan, segeeerr. Sejuk banget.
9
Arena bermain TK Tunas Bangsa yang juga bisa dimanfaatkan anak-anak yang ikut menginap di Garden Homestay.

     Sore itu aku membeli makan tidak jauh dari Homestay. Hanya menyeberang jalan saja, ada semacam Pujasera. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai. Tapi ada lumayan banyak makanan dan minuman yang dijual. Mulai lalapan, tahu tek, soto dll. Setelah selesai membeli makan, aku langsung kembali ke penginapan dan sempat ngobrol dengan Ibu pemiliknya. Ramah sekali dan beliau memberitahu bahwa tidak jauh dari penginapan juga ada rawon enak yang cukup terkenal di Banyuwangi yaitu Rawon Bik Ati. Ada juga tempat nongkrong anak-anak muda namanya Bajak Laut. Aku cukup senang mendengar informasi dari Ibu. Tapi karena memang waktunya terbatas, mungkin bisa dicoba lain kali.

4
Pujasera dekat Pengadilan Agama, lumayan dekat dari Homestay. Bisa jadi alternatif tempat makan kalau tidak mau jauh-jauh.

     Aku sempat tidur sebentar karena lumayan capek. TV Cuma jadi pajangan karena posisi capek malas sekali nonton TV. Oh iya di kamar yang aku tempati ini fasilitasnya sudah sangat lengkap menurutku. Gimana nggak lengkap? Biasanya, setiap cari penginapan aku selalu pilih standard fan bukan AC. Biar lebih irit hehehehe. Disini kamarnya nyaman, bersih, kamar mandi dalam, masih juga ada Heater, AC dan TV. Setiap kamar disediakan Air mineral dan heater lengkap dengan kopi, teh dkk. Lumayan buat diminum malam-malam apalagi pas hujannya lagi galau mulai sore sampai menjelang tidur malam. Sebenarnya ada banyak macam kamar di Garden Homestay. Mulai dari kamar dengan kitchen set sampai non kitchen set. Ada juga yang kamar mandi dan dapur di luar. Jumlahnya ada 21 kamar disini. Untuk range tarif, jangan khawatir. Muraaaahhhh deh disini. Berkisar 150.000 – 200.000 saja. Sama sekali nggak mahal untuk ukuran kamar dengan fasilitas super lengkap kan? 😀

6
Kamar yang bersih dan nyaman.
7
Fasilitasnya lengkap. Kita juga bisa bikin kopi atau teh sambil nonton TV di kamar.
5
Kamar dengan fasilitas kitchen set. Cocok buat yang suka masak-masak sendiri. Jadi nggak perlu keluar kamar untuk bikin makanan.

     Sesuai jadwal, malam harinya aku datang ke acara pernikahan salah seorang sahabat pegiat Literasi di Banyuwangi. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari penginapan. Dan kegiatan malam itu ditutup dengan beberes barang karena besok paginya harus sudah kembali ke Jember. Istirahat malamnya ditemani hujan deras di luar. Alhamdulillah nggak perlu AC. Hihihihihihi.

    Keesokan paginya setelah sarapan, aku bersiap-siap. Dan karena tau jadwal kereta masih lama, aku sengaja menyegat angkot untuk pergi ke Stasiun. Naik angkot atau bus itu jadi rutinitas kalau sedang ada di luar kota. Misalnya ke Surabaya, Malang, Jogjakarta. Banyuwangi pun sama. Kebetulan ada angkot yang melintas dengan angka 4. Sebenarnya rute angkot ini ke Terminal Blambangan. Tapi Bapak sopir berbaik hati mengantar sampai ke Stasiun Karangasem karena kata beliau angkot rute Stasiun Karangasem jarang melintas. Lumayan lah bisa nostalgia naik angkot juga disini.

10
Angkot Banyuwangi mirip sekali dengan di Jember. Bedanya, disini kode menggunakan angka sedangkan di Jember menggunakan huruf. Menuju Stasiun Karangasem dengan angkot.

     Yang jelas, pengalaman menginap satu malam di Garden Homestay bener-bener berkesan, acara pernikahan temanku juga sangat menyenangkan seperti ajang reuni 😀 Tapi masih ada yang kurang nih. Belum sempat main ke tempat-tempat seputar kota. Belum makan rawon Bik Ati dan Rujak soto. Semoga next time ada kesempatan liburan dan bisa menginap di Garden Homestay lagi. Buat kamu yang mau ke Banyuwangi tapi bingung, belum dapat tempat menginap, ini recommended banget deh! Garden Homestay, penginapan murah, nyaman dan tenang di tengah Kota Banyuwangi. Kamu bisa langsung kontak kesana. 🙂

Pelatihan by Alfamart : Perempuan Harus Berdaya!

     Pemberdayaan masyarakat terutama kaum muda dan perempuan, saat ini sudah menjadi perhatian berbagai pihak. Baik itu oleh pemerintah, lembaga mandiri, maupun perusahaan. Perempuan, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif baik bagi keluarga, masyarakat sekitar maupun secara luas dapat menjangkau kontribusi tingkat nasional. Sekalipun tidak berkarir di perusahaan, perempuan diharapkan tetap aktif dan kreatif. Di bidang apapun itu.

    Stigma di masyarakat saat ini, perempuan yang berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga masih dipandang sebelah mata, dibandingkan dengan mereka yang berkarir. Padahal, bila menilik sisi positif, banyak sekali yang memang bisa seorang Ibu lakukan. Misalnya memantau tumbuh kembang anak secara langsung dan membimbing sendiri dalam hal akademik.

   Namun tidak bisa dipungkiri, perempuan yang mungkin awalnya berkarir kemudian menjadi full time mom akan merasa jenuh dengan kegiatan atau rutinitas di rumah. Itulah mengapa perlu kegiatan positif yang bisa menjadi selingan ditengah padatnya aktivitas di rumah. Misalnya saja dengan membuka usaha online (online shop), menulis (blogging), membuat kerajinan tangan dari barang-barang bekas yang ada di rumah (crafting) dan banyak lagi kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Bahkan tidak sedikit remaja-remaja putri saat ini yang memilih menekuni bisnis online, enath itu sambil berkuliah ataupun tidak (karena faktor biaya). Intinya, berkarir ataupun tidak, perempuan harus berdaya.

   Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat khusus Perempuan yang diadakan oleh Alfamart bekerja sama dengan The Jannah Institute ini benar-benar membuka pandangan tentang hal ini. Bahwa kita, para perempuan tetap bisa berdaya dan berkarya sekalipun hanya dari rumah. Satu hal lagi yang aku dapat dari pelatihan ini. Bahwa sebagai konsumen yang memang terkadang dalam kondisi terdesak beberapa kali berbelanja di Minimarket terdekat dari rumah yaitu Alfamart. Selama ini, membandingkan harga-harga antara Alfamart dengan beberapa Minimarket lainnya (termasuk yang berjaringan maupun tidak) memang dirasakan harganya terpaut cukup jauh. Sehingga dapat dihitung dengan jari saja aku berbelanja di Alfamart.

10
Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Khusus Perempuan, Alfamart bersama The Jannah Institute.

   Tapi saat mengikuti Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat khusus perempuan ini, wawasanku makin terbuka. Bahwa sebenarnya, saat ini citra yang dibangun Alfamart bukan sekedar Retail berjaringan tetapi lebih ke komunitas. Lebih fokus pada pembinaan masyarakat dengan usaha kecil dan menengah. Menurtku, ini adalah sebuah langkah bagus untuk membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat terutama di wilayah Jember dan sekitarnya.

   Dibuka secara khusus oleh Bapak Yosia Andika Pakiding selaku Branch Manager Alfamart Jember, pelatihan ini berjalan santai dan akrab. Pak Yosi selalu mendampingi kegiatan pelatihan bahkan sampai acara berakhir. Wah salut ya. Biasanya kan kalau sekelas BM yang mobilitas tinggi dan cukup sibuk dengan urusan kantor, setelah memberikan sambutan biasanya langsung kembali kepada aktifitas kantor. Disini selain memberikan pengantar, Pak Yosi juga memberikan sedikit gambaran terkait jenis-jenis usaha yang dimiliki Alfamart dan peta serta pertumbuhan bisnis retail di Indonesia dan dunia.

3
Pembukaan dari Pak Yosi, Branch Manager Alfamart Jember.

   Setelah pembukaan oleh Pak Yosi, acara dilanjutkan dengan materi. Ada tiga pemateri dalam pelatihan kali ini. Ada Pak Bagus Alfian selaku Marketing Virtual Store dari Divisi International Business & Strategy Alfamart, kemudian juga ada Pak Taufik Hidayanto yang merupakan Sales Store Point Manager Alfamart, dan yang paling cantik serta paling bikin aku penasaran adalah Mbak Mira Christina Effyati atau yang akrab disapa Mbak Effy selaku Koordinator Bank Sampah di Kampoeng Recycle Jember. Dari awal sudah bertanya-tanya. Ini ada dimana ya? Kok aku orang Jember justru nggak tau? Kegiatannya apa saja? Sistemnya bagaimana? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang memenuhi kepala. Jangan-jangan, diantara para pembaca blog yang asli Jember juga banyak yang belum tau yaaa tentang Bank Sampah? Hihihihi.

   Yang unik dari Kampoeng Recycle ini adalah Tagline yang mereka buat. “Sampah aja diperhatiin. Apalagi Kamu?” Auto baper ini yang masih pada single (soalnya ketawa dan tepuk tangannya paling kenceng. Termasuk yang nulis sih. Hahahahaha). Jadi, Bank Sampah ini berada di daerah Perumahan Taman Gading Jember. Memang sesuai namanya, disini masyarakat bisa menabung dengan menyetorkan sampah-sampah rumah tangga yang kering dan dapat didaur ulang seperti botol-botol bekas air mineral, kaleng susu, kaleng cat, kaleng kue dll sehingga barang-barang yang tadinya sudah dianggap tidak bernilai, bisa menjadi lebih bernilai dengan didaur ulang.

1
Contoh hasil karya barang daur ulang dari kampoeng Recycle jember.

   Selain Bank Sampah, di Kampoeng Recycle juga ada Koperasi sembako Bank Sampah. Sehingga untuk anggota yang biasa menabung juga bisa memanfaatkan Koperasi ini. Bank Sampah ini digagas oleh Mas Nurul Hidayat atau yang akrab disapa Mas NuHi yang juga merupakan suami dari Mbak Effy dan merupakan Founder dari Rumah Literasi Indonesia yang ada di Jember dan Banyuwangi. Keren kan? 😉

   Memang dalam pelatihan kali ini Mbak Effy tidak terlalu banyak bercerita tentang Bank Sampah ataupun Kampoeng Recycle, karena dijelaskan selanjutnya oleh Mbak Ely dari GENBI yang juga bekerjasama dengan Kampoeng Recycle. Mbak Effy fokus pada pelatihan Decoupage dengan bahan botol kaca bekas minuman. Disini aku benar-benar langsung berfikir “Padahal di rumah banyak banget botol ini. Tapi kenapa selama ini nggak ada pikiran untuk me-recycle ya?” 😀 Padahal dari satu botol kecil bisa jadi banyak fungsi dan jadi barang lucu-lucu bahkan bisa dipakai untuk souvenir baik itu ulang tahun maupun pernikahan. Waaahhh benar-benar menyulap barang tak bernilai menjadi lebih bernilai deh ini. Satu poin yang bisa jadi pegangan untuk perempuan berdaya : Aktif Berkarya, Berkreasi dan Berimprovisasi. Noted!

4
Mbak Effy mulai memperkenalkan Kampoeng Recycle sebelum memberi materi, didampingi Host Ketje yang juga Ibunya Blogger-Blogger Jember, Mbak Prita HW 😀
5
Mbak Ely dari GENBI (Generasi Baru Indonesia) program dari Bank Indonesia, sedang menjelaskan tentang Kampoeng Recycle, program dan apa saja yang ada di Kampoeng Recycle Jember.
6
Bahan pelatihan Decoupage kali ini, menggunakan botol kecil bekas minuman. Coba tebak itu botol bekas minuman apa? 😛

   Setelah seru-seruan berkreasi bersama Mbak Effy, kita langsung ketemu sama Pak Taufik nih. Kalau kata Pak Taufik, beliau itu “Orang Pasar”. Nongkrongnya di Pasar-Pasar, di Toko-Toko Kelontong, bawa-bawa motor yang ada boxnya. Hehehehe. Iya, tapi memang itulah keseharian Pak Taufik selaku manajer Sales Store Point Alfamart. Istilah Store Sales Point ini bener-bener baru aku dengar waktu pelatihan ini loh. Mungkin kalian juga. Jadi, selain punya bisnis waralaba retail, Alfamart juga punya SSP yang merangkul serta melakukan pembinaan kepada pedagang mikro, kecil dan menengah di sekitar Alfamart sekaligus memberikan support kebutuhan barang melalui penjualan dengan harga khusus. Jadi, harganya jangan dibayangkan semahal yang ada di Minimarket. Disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

7
Pak Taufik saat memberikan informasi terkait SSP. Foto ala Candid nggak apa-apa deh ya Pak? 😀

   Pak Taufik juga memberikan sedikit gambaran perbedaan antara warung kelontong biasa yang didirikan perorangan dengan yang dimanajemeni secara baik atau mendapatkan pembinaan. Misalnya saja terkait jadwal buka toko yang sesuai kebutuhan masyarakat sekitar, dan terkait pelayanan serta perhatian yang diberikan terhadap pelanggan. Sekalipun toko menjual barang mahal, tetapi ketika hal-hal tersebut didapatkan, terkadang masyarakat lebih memilih yang pelayanan baik. Mungkin satu dua kali jika mempertimbangkan kebutuhan yang mendesak atau waktu yang mepet, bisa memilih membeli barang di tempat yang dekat. Hal-hal kecil ini yang membuat aku berfikir “Iya ya. Kadang beli di Toko A begini, di Toko B seperti ini” dan informasi yang diberikan dapat menjadi bekal. Bahwa berbisnis itu, butuh manajemen yang baik.

   Masyarakat yang ingin menjadi Mitra Alfamart dapat memilih apakah ingin mendirikan warung rombong atau warung rumahan. Bahkan, Institusi Pendidikan atau Perusahaan pun bisa bermitra dengan Alfamart. Wah, makin luas dan mudah nih menjangkau mitra Alfamart sekarang ini. Untuk mendaftar pun tidak sulit. Cukup melalui Moblie Application saja. Dan nantinya benar-benar akan dibantu, dibimbing oleh Tim dari Alfamart. Sebenernya sih berminat. Tapi di samping kanan, samping kiri, bahkan belakang rumah sudah punya warung. Kan nanti jadi susah, siapa dong yang beli? Hehehehehe.

   Nah, di materi terakhir, ada Pak Bagus sebagai pembicara. Lumayan semangat rasanya. Iya, semangat karena mau masuk jam makan siang 😀 Tapi nggak juga sih, karena pembahasannya kali ini lumayan masuk. Tentang teknologi. Perempuan harus melek teknologi. Karena seiring dengan berkembangnya teknologi, masyarakat memang dituntut untuk bisa mengimbangi. Namun, penggunaan teknologi terutama internet harus tetap dalam koridor positif. Kalau internet dipake buat usaha, jelas positif dong ya. Kalo kata Pak Bagus, orang sekarang ini sudah “Gadget Addict” alias kecanduan handphone.

8
Pak Bagus memberikan informasi seputar bisnis digital Alfamart.

   Apapun bisa kita dapatkan melalui handphone. Mulai dari informasi, musik, pengetahuan dsb. Segala hal juga bisa kita lakukan melalui handphone. Mulai dari komunikasi hingga bisnis online. Hal inilah yang bisa dinilai sebagai peluang bagi Alfamart untuk lebih dekat dengan masyarakat terutama Customer setia Alfamart. Melalui Digital Business Alfamart yang sudah tidak asing lagi seperti Alfa Mikro (ini dipergunakan bagi Mitra Sales Store Point), AlfaMind (Alfamart and Mind Store seperti Online Shop, Retail Shop), Alfa POP, Alfa Gift, Alfa Cart maupun Alfa Trex (layanan pengiriman logistik), masyarakat juga bisa menjadi bagian dari bisnis Alfamart. Bahkan cukup dengan Aplikasi yang bisa didownload melalui Play Store yaitu Alfamid Lite, kita sudah bisa menjalankan bisnis kita dibawah manajemen Alfamart. Mudah kan? Kira-kira bisnis apa yang ingin anda daftarkan di AlfaMind? 🙂

   Jadi, selain harus berdaya, berkarya, berkreasi dan berimprovisasi, perempuan juga harus melek teknologi untuk menambah pundi rupiah dengan memanfaatkan peluang bisnis yang ada di masyarakat. Yang menyenangkan, dalam pelatihan kali ini, peserta tidak hanya membawa ilmu dan menambah teman, tetapi juga membawa oleh-oleh dari Alfamart dan hasil kerajinan Decoupage dari Kampoeng Recycle. Belum lagi, aku dapat tambahan hadiah dari upload foto ke social media. Wiiiihhh bener-bener nggak rugi bisa belajar ilmu baru bareng Alfamart dan Kampoeng Recycle.

9
Pulang-pulang bukan kayak orang habis pelatihan, tapi kayak orang habis kulakan. Siap buka Toko Binaan Alfamart dah nih. Hehehehe.

   Terima kasih untuk kesempatannya Alfamart dan The Jannah Institute. Next time boleh loh diajakin belajar bareng lagi. Hehehehehehe.

Menikmati Suasana Jember “rasa” Jimbaran di Pantai Tengah (Part 1)

      Pernah menikmati sunset dinner? Bagi masyarakat Jember mungkin istilah ini masih jarang terdengar. Rasanya masih asing di telinga. Tapi tau nggak kalau di jember pun kita bisa menikmati sunset dinner? Tidak perlu jauh-jauh pergi ke Pulau Dewata, Bali. Jember punya Tamasya Bus Kota, salah satu program wisata lokal yang digagas oleh Mbak Hasti Utami. Setelah sukses melaksanakan launching Sunset Dinner Pantai Payangan pada 8 April lalu, tepat 7 Oktober kemarin Tamasya Bus Kota kembali menambah Trip lokal jember yaitu Sunset Dinner Payangan 2 : The Hidden Beach Watu Ulo.

      Kenapa disebut Hidden Beach Watu Ulo? Karena sebenarnya Pantai yang dituju bukan Watu Ulo. Tetapi Pantai Tengah, Pantai yang belum banyak diketahui warga Jember yang suasananya tidak kalah menarik daripada Watu Ulo yang memang sudah menjadi icon bagi Jember dengan legendanya. Pantai berpasir hitam ini letaknya berada di perbatasan antara Pantai Payangan dan Pantai Watu Ulo.

     Rute yang dilalui tidak berbeda dengan Sunset Dinner Pantai Payangan. Hanya berbeda di tempat menikmati sunset dinnernya saja. Pertama-tama, rombongan diajak untuk masuk ke kampung nelayan untuk melihat proses berbagai jenis ikan hasil tangkapan nelayan. Setelah melihat proses pemindangan, peserta diajak melihat pengasapan ikan pari atau yang lebih dikenal dengan iwak pe. Jangan ditambah yek ya. Nanti jadi iwak peyek kayak lagunya Trio macan. Hehehehe. Di tempat pengasapan ikan pari ini paling gaduh. Ibu-Ibu berebut untuk melihat dan tentunya membeli. Yaaahhh aku sih maklum. Namanya juga Ibu-Ibu. Kalau lihat yang beginian pasti langsung inget dapur. Langsung kepikiran yang di rumah 😀

6
Disambut oleh “Barisan Para Pindang” 😀
7
Setelah melewati tempat pemindangan, kami diajak mampir melihat proses pengasapan ikan pari atau yang lebih famous dengan panggilan iwak pe 😛
9
Ini namanya “Baby Layur” alias omai. Tapi aku nggak suka sama mereka nih. Cilik-cilik metesek. Pas diliatin malah melotot-melotot. Ya tak pelototin balik. Hahahaha.

      Kami terus menyusuri kampung nelayan, melihat hasil pengeringan omai atau ikan layur kecil. Pak Hariadi selaku pemandu lokal juga sempat mengajak kami mampir ke rumah-rumah warga yang memiliki jaring untuk menangkap gurita dan lobster. Awalnya aku nggak terlalu berminat ikut berkeliling karena sebelumnya, di launching Sunset Dinner Pantai Payangan aku sudah pernah melihat proses pembuatan terasi khas Payangan, juga di area Kampung Nelayan ini. Tapi bersyukur akhirnya ikut. Karena ternyata banyak hal yang belum aku lihat di trip sebelumnya dan baru aku tau di trip kali ini.

      Selepas berjalan melewati Kampung Nelayan, Pak Hariadi mengajak kami singgah sebentar di Dermaga Payangan. Aku sempat bertanya “Ini dermaga baru pak?” ternyata aku salah. Pak Hariadi bilang, ini bukan tempat baru. Ini adalah tempat perahu-perahu nelayan bersandar yang memang sudah ada sejak lama, namun memang kurang terawat. Jika kita lihat dari atas bukit, tempat ini akan menyerupai bentuk hati. Itulah kenapa disebut Teluk Love.

8
Pemandangan menuju Dermaga 😀
10
Dermaga darat, tempat bersandar kapal-kapal nelayan. Jika dilihat dari atas bukit, tempat inilah yang menyerupai bentuk hati, sehingga dijuluki Teluk Love. Sayangnya memang kondisinya kurang terawat.

       Perjalanan kami berlanjut ke warung makan Bu Ipa dan Pak Rohim, salah satu Mitra Tamasya Bus Kota yang juga menyediakan makanan untuk peserta Trip Sunset Dinner Payangan. Disini kami istirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tengah, perbatasan Pantai Payangan dan Pantai Watu Ulo yang menjadi tempat Sunset Dinner kali ini.

      Awalnya sempat excited karena melihat di kejauhan matahari terlihat sangat cantik, mulai berwarna kemerahan. Tapi saat melihat jam, aku berfikir ini terlalu terlambat untuk Sunset Dinner. Karena Sunsetnya udah kabur duluan. Hihihihi. Dan melihat ombak dari kejauhan, sempat merinding juga awalnya. Karena air sudah pasang. Tapi begitu tiba di tempat yang dituju (Sunset Dinner ini didukung oleh Mitra Tamasya Bus Kota yaitu Warung Cak Sukri), seketika langsung khilaf. Hahahahaha. Iya, ombak yang besar dan menakutkan dari kejauhan, ternyata tidak semenakutkan itu. Airnya jauh di bawah. Dan meskipun sedikit terlambat karena sudah tidak bisa melihat matahari tenggelam, hanya ada sisa semburat jingga di langit, tapi suasananya tetap menyenangkan.

4
Salam Pembuka dari Pantai Tengah. Seger ya? Habis dikasih pemandangan segala jenis ikan, diajakin makan dengan view secantik ini.
5
Tidak hanya view yang keren saja. Kita juga dihibur oleh pengamen jalanan yang merupakan mitra binaan Tamasya Bus Kota. Mau lagu pop, dangdut, semua bisa by request. hehehehe.

     Aku langsung berkeliling untuk menangkap beberapa momen yang aku pikir bisa untuk melengkapi dokumentasi tulisanku. Tidak terlalu banyak sih. Tapi, minimal setelah aku upload di Instagram dan WhatsApp story, aku baru sadar karena ada beberapa yang bilang “Serasa di Jimbaran (Bali)”. Itulah kenapa akhirnya muncul judul blog seperti atas. Iya, karena untuk bisa menikmati Sunset Dinner dengan suasana seperti di Jimbaran Bali, kita tidak perlu jauh-jauh dan mengeluarkan banyak biaya. Di jember pun bisa. Cukup ikut Trip Tamasya Bus Kota (Tapi ini bukan endorse loh ya. Soalnya Mbak penulis ini ikutan Tripnya juga bayar, kagak gratisan hahahaha. Berharapnya sih next trip bisa dibayar dengan tulisan di Blog aja. Hihihihihi *ngarepbanget).

2
Romantis nggak sih? Iyalaaahhh romantis. Buat yang ngetrip sama pasangan. Yang motrek mah gigit jari. Romantis-romantisan sama pasir pantai. Hihihihi.
1
In frame : Dirahasiakan 😀 Begitu turun dari Bus, ngeliat momen yang pas (pas lagi ada couple lewat, pas tempat masih sepi, pas HP stand by) langsung sok ngatur mereka dan jadilah foto ala-ala 😀

      Yaaahhh meskipun belum bener-bener puas karena belum dapat view (the real) sunsetnya, tapi trip ini sudah menjadi pelipur lara bagi Mbak-Mbak yang cuma bisa motrek pasangan-pasangan bahagia. Bahagiaku sih gampang. Tak pikir sambil keliling nyari spot foto. Hihihihi. Aku cuma punya keinginan, next time wajib kesini lagi diwaktu yang tepat dan dengan perhitungan yang cermat supaya bisa mendapatkan sunset seperti yang aku bayangkan.

      Jadi, kapan kamu mau nemenin aku Sunset Dinner di Pantai Tengah? 😀

Koleksi Barang Antik, Hobi “Mahal” yang Menyenangkan.

     Pernah terlintas dalam benak atau pikiran nggak sih buat koleksi barang-barang antik? Mungkin sebagian orang agak kurang familiar atau bahkan tidak berminat mengoleksi barang antik karena ini semacam hal yang jarang dilakukan perempuan, tapi menurutku sebenarnya asik juga.

     Mereka bilang, hobi mengoleksi barang antik merupakan hobi “mahal”. Memang sih. Barang-barang antik atau aku lebih suka menyebutnya dengan istilah vintage (biar lebih keren dikiiiittt hehehe), adalah hobi “mahal” tapi juga sangat menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Karena tidak mudah untuk memiliki dan mengoleksi barang lawas. Selain harganya bisa jadi cukup mahal, tidak di sembarang tempat bisa dibeli. Dari pengalaman pribadi, selama ini masih lebih sering cari barang secara online.

Vintage 6
Salah satu Lapak barang kuno di Jember.
Vintage 7
Ini nih yang dicari sejak lama. Pas ketemu, rasanya kayak nemuin harta karun 😀
Vintage 8
Barang-barang yang dijual, ada petromaks juga loh.
Vintage 9
Yang familiar sih cuma The Beatles sama Bob Dylan. Hihihihi.  Sulit menemukan lapak barang jadul yang barangnya lengkap dan lumayan bagus. Ada pun, harganya mahal untuk ukuran Jember.

     Banyak toko yang “didatangi” untuk hunting barang yang diinginkan. Memang sih ada keinginan untuk bisa datang langsung, tapi belum kesampaian. Beberapa kota besar yang terkenal dengan pasar loaknya seperti Surabaya, Solo, Semarang, Jogja dan bahkan Bandung, sudah masuk dalam target kunjungan. Karena pasti lebih seru ketika bisa hunting secara langsung. Yang susah kalo sudah khilaf ya urusan duitnya aja sih. Hahahaha.

Vintage 1
Kaset-Kaset ini dibeli secara online dari lapak di Jogja. Meski berat saat diputar, tapi masih bisa didengarkan. Pasti salah satunya adalah Band favoritmu waktu masih muda 😀
Vintage 4
Dua Kamera ini juga dibeli dari lapak online di Jogja. Alhamdulillah no tipu-tipu.

     Hobi mengoleksi barang antik sebenarnya dimulai dari rasa senang ketika melihat beberapa barang peninggalan Ayah yang memang masih bisa ditemukan di dalam rumah. Misalnya saja motor Honda Astrea Prima keluaran akhir 1988, radio dual sound merk Crown tahun 1980-an, mesin ketik merk Brother, koper jadul, termasuk jam weker titipan Mbah Kakung dan beberapa barang lainnya.

Vintage 18
Barang-barang yang menjadi cikal bakal hobi koleksi barang vintage. Ini adalah barang-barang pribadi peninggalan Ayah dan pemberian Kakek.
Vintage 3
Menurut Ebok’e (Ibuku), radio ini dibeli sekitar tahun 1982 dengan harga 180.000 dicicil sepuluh kali. Hihihihihi. Ini masih berfungsi loh. Setiap pagi dipakai untuk mendengarkan radio untuk menemani Ebok’e memasak. Untuk tape nya belum dicoba.
Vintage 15
Dari beberapa barang peninggalan Ayah, yang paling favorit adalah Motor Honda Astrea Prima yang masih aku pakai sampai sekarang. Sayang fotonya belum ketemu. Hehehehe. Mesin ketik juga favorit. Biasanya aku pakai untuk menulis puisi 🙂

      Dari situlah muncul niat mengumpulkan barang-barang yang ada bahkan ingin menambah macam koleksi. Bagi orang lain, mungkin hal ini agak aneh apalagi bila dilakukan oleh perempuan. Biasanya, kebanyakan kolektor atau bahkan penjual barang antik adalah laki-laki. Tapi, menurut pandanganku sih boleh-boleh aja ya. Nggak masalah. Namanya juga udah suka. Hehehehe. Toh kalau misalnya memang sudah nggak berniat dikoleksi, barang-barang ini misa menjadi pundi-pundi rupiah. Sejauh ini, untuk beberapa barang peninggalan memang tidak berniat dijual. Lebih ingin punya ruangan atau etalase khusus untuk display koleksinya. Yang dilihat bukan sekedar barangnya. Bagus ataupun tidak, tapi barang-barang ini ada nilai historisnya. Itu yang selalu aku pegang sampai sekarang.

     Koleksi yang awalnya hanya beberapa, akhirnya sedikit demi sedikit mulai ditambah. Hunting di dalam kota maupun beli melalui lapak online sudah sekian kali dilakukan. Beberapa waktu yang lalu sempat membeli sebuah radio, kaset-kaset, kamera, koper mini, dan kursi karet. Memang, untuk bisa mengoleksi barang seperti ini dibutuhkan minimal pengetahuan tentang barang yang akan dibeli agar tidak mudah dibohongi. Kadang amat sangat perlu menjadi sok tau, agar penjual berfikir kita paham tentang barang-barang lawas dan lebih mudah dinego. Hehehehe. Dan tentunya harus cukup selektif, terutama bila berniat bukan sekedar untuk mengoleksi tetapi untuk menjual kembali.

Vintage 5
Koleksi tambahan. Hayoooo siapa yang waktu SD suka bawa koper ke sekolah? Ngacung! 😀
Vintage 2
Sebagian koleksi saat dikumpulkan. Mereka mau Karnaval. Hehehehe.

      Sempat dilarang orang tua itu sudah pasti. Masalahnya, selain suka jalan-jalan, anak ragilnya Ebok’e ini juga suka koleksi “barang rosokan” hahahaha. Karena memang jujur barang-barang lawas nggak bisa dibilang murah. Bahkan untuk orang awam terkesan mahal dan membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting. Tapi toh kalau memang berniat menjadikan ini sebagai bisnis, hasilnya juga bisa lumayan loh. Cuma, masalahnya kalo perempuan itu suka baper. Iya, kebawa perasaan. Kalo udah sukaaaa bangeeettt sama salah satu barang apalagi yang dapetinnya susah atau nilai historisnya tinggi, pasti bakal susah melepasnya atau menjual ke orang lain. Susah move on meeennnn!!! Hahahaha.

     Dan itu, aku banget! Susah lah ya buat ngelepas barang-barang yang didapetinnya penuh perjuangan, nabung, dan disertai harap-harap cemas kalo beli online karena takut kena tipu. Tapi Alhamdulillah sejauh ini, ada dua lapak online yang sudah lumayan jadi langganan tempat beli barang. Intinya ya positive thinking aja. Dan bangun komunikasi yang baik. Siapa tau kalo sering beli bisa dapat diskon 😀

      Ternyata, kecintaan pada barang-barang vintage dan hobi mengoleksi ini terbawa sampai ke selera tempat nongkrong atau tempat main favorit. Ada dua cafe terfavorit, baik di Jember kota atau sekitar Jember yang bernuansa vintage dan memajang barang-barang lawas di cafenya. Salah satunya bahkan memang berada di sebuah bangunan berarsitektur Belanda, bangunan yang memang menjadi kesukaanku.

        Jember Kota punya T.A.S.T (The Anglo Saxon Tavern) dan Kalisat punya Kedai Doeloe. Bahkan dalam dua kali perhelatan pameran foto Kalisat Tempo Doeloe di Kedai Doeloe yang lokasinya tak jauh dari Stasiun Kalisat ini, aku juga menyempatkan untuk datang. Sebenarnya, ada satu lagi tempat favorit yang paliiinnggg disukai sejak pertama kali tempatnya buka  sekitar tahun 2014 lalu. Rollas Coffee and Tea. Tapi berhubung harga makanan dan minumannya lumayan ya, jadi kalo main kesini cuma pas ada tamu kantor aja. Hahahahaha. Beberapa kali saat berkunjung ke luar kota pun, aku lebih suka datang ke tempat-tempat serupa. Misalnya Toko Ice Cream Zangrandi di Surabaya, Toko Ice Cream Oen di Semarang, Indische Koffie Benteng Vredeburg dan Legend Cafe Jl Abu Bakar Ali Jogjakarta.

Vintage 14
T.A.S.T di Jl Semeru, Jember. Pernah kesini? Atau ini juga salah satu tempat nongkrong favoritmu?
Vintage 17
Ini Kedai Doeloe Kalisat. letaknya hanya beberapa meter dari Stasiun Kalisat.

       Menurutku, bangunan berarsitektur Belanda itu keren. Kokoh, punya ciri khas, dan bagus. Dengan karakter bangunan yang besar dengan ruangan-ruangan yang luas, jendela-jendela besar dalam jumlah banyak, serta pintu besar. Megah. Itu satu hal yang dapat menggambarkan bangunan berarsitektur Belanda. Memang ada korelasinya sih dengan barang-barang vintage. Saling melengkapi rasanya.

     Biasanya, cafe-cafe dengan konsep vintage memang lebih banyak memilih tempat seperti ini. Bangunan lawas. Kalaupun tidak, biasanya ditunjang dengan properti dan lighting yang khas, tidak terlalu terang tapi tidak gelap (temaram). Selain cafe, tempat main favorit lainnya adalah Museum Kereta Api di Stasiun Bondowoso. Pernah kesana? Kalau pernah, pasti tau kenapa tempat ini menjadi salah satu tempat main favorit. Selain karena aku adalah seorang RAILFANS atau Pecinta Kereta Api, nongkrong berlama-lama disini juga menyenangkan. Terutama ketika senja. Suasananya tenang dan bagus juga untuk objek foto. 😀

Vintage 16
Museum Kereta Api Bondowoso yang berada di Stasiun Bondowoso.
Vintage 13
Salah satu sudut di Museum Kereta Api Bondowoso. Selain ada benda-benda perkeretaapian, juga terdapat foto-foto, miniatur Lokomotif, dan sejarah Gerbong Maut.

Beberapa waktu lalu aku juga sempat menghadiri undangan dari salah seorang teman yang sangat paham dengan hobiku dan kecintaan pada barang-barang lawas. Dia seorang Guru di salah satu sekolah swasta di Jember kota yang kebetulan sedang mengadakan pameran Jember Tempo Doeloe dalam rangka memperingati HUT RI ke-73. Antusias sekali bisa datang kesana. Pamerannya lengkap mulai informasi Sejarah Jember, foto-foto bangunan kantor dan perusahaan ataupun icon Jember Tempo Doeloe, alat musik, permainan dan jajanan tradisional, sampai pameran barang-barang antik. Berharap suatu saat Jember Tempo Doeloe ini bisa digelar secara rutin dan pelaksanaannya diambil alih Pemkab sehingga bisa menjadi agenda tahunan yang menjadi potensi pariwisata Jember seperti yang sudah ada di Malang (Malang Tempo Doeloe), Probolinggo (Probolinggo tempo Doeloe) dan Lumajang (Lumajang Tempo Doeloe).

Vintage 11
Pak Agus, salah seorang teman yang mengundang untuk hadir di jember Tempo Doeloe yang diadakan oleh Keluarga Besar SMP Al Furqon Jember.
Vintage 12
Beberapa koleksi yang dipajang.

      Mungkin ada beberapa orang yang senang melihat tapi tidak berniat mengoleksi barang-barang antik. Tapi ada satu kepuasan tersendiri ketika kita bisa mengoleksi. Meskipun termasuk hobi mahal, tapi kalau sudah suka, dan bagi kita itu menyenangkan, ya bakal tetep aja dibeli dan dikoleksi. Benar apa betul? 😁😁

Pasir Putih Situbondo, Solusi Liburan Hemat Di Waktu Yang Singkat.

      HARPITNAS. Pasti udah pada familiar ya dengan istilah ini? Singkatan dari Hari Kecepit Nasional (entah siapa yang pertama kali menciptakan istilah ini yang kemudian diamini oleh banyak orang terutama karyawan dan karyawati yang kurang piknik hehehe). Harpitnas adalah hari libur yang lumayan nanggung, apalagi kalau liburnya jatuh di hari aktif atau hari kerja yaitu hari Selasa. Bawaanya pengen cuti aja di hari Senin biar sekalian bisa libur dari hari Sabtu sampai Selasa. Hahahahaha. Harpitnas adalah hari yang paling ditunggu bagi para karyawan, terutama yang hobi traveling, termasuk yang hobi “melarikan diri” dari rutinitas yang itu-itu saja untuk merefresh pikiran dan menyegarkan badan.

      Minggu lalu ada satu Harpitnas yang jatuh pada tanggal 11, yang merupakan Tahun Baru Hijriyah. Banyak yang sudah merencanakan liburan panjang dengan mengambil libur di hari Senin. Tapi bagi yang tidak mendapat jatah libur atau mungkin cuti belum di ACC, Harpitnas terasa agak sia-sia karena libur tetap dihitung satu hari 😀

      Tapi bagi orang yang tau sela dari Harpitnas akan tetap bisa memanfaatkan libur sehari untuk merefresh otak maupun badan dengan berlibur, tepatnya liburan singkat. Nah, kemarin pun aku bersama keluarga memanfaatkan momen liburan sehari untuk jalan-jalan ke Wisata Bahari Pasir Putih Situbondo. Kenapa kesana? Pertama karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jember. Hanya sekitar dua jam perjalanan darat. Kedua karena ada anak-anak sehingga dipilih tempat yang aman untuk bersenang-senang (Pasir Putih Situbondo adalah Pantai Utara sehingga ombaknya masih relatif aman dibanding Pantai Selatan sekalipun saat sedang pasang), ketiga karena memang aku cuma ngikut aja sih jadi ya mau kemanapun nggak masalah kan nggak ikut nyetirin mobil dan nggak mikirin beli bahan bakar. Hahahahaha (sambil ketawa jahat nih :P).

PINTU MASUK
Ada beberapa pintu masuk Pasir Putih. Kebetulan, mobil keluarga kamu parkir tak jauh dari puntu 3 meskipun kami masuk dari pintu 2. Hehehehe

      Sebenarnya, rencana awal aku mau ke Banyuwangi menengok salah seorang teman yang sedang terkena musibah, mengalami kecelakaan. Tapi begitu diberitahu kalau Kakak bersama suami dan anak-anaknya akan pergi ke pasir Putih, dan Ebok’e juga bilang mau ikut, aku memutuskan ikut. Ya lumayan lah, sekalian nostalgia masa kecil waktu masih sering main kesana. Sudah lama nggak main ke Pasir Putih.

      Dulu, saat masih sekolah, ini adalah tempat berlibur favorit anak-anak di kampungku. Dengan tiket seharga 2.000 saja (saat itu masih menggunakan jenis tiket Edmonson), kita sudah bisa naik kereta sampai Stasiun Panarukan Situbondo, menempuh perjalanan santai (bersama bakul iwak, bakul jangan dan segala macam bakul-bakulan 😂😂😂) kemudian dilanjutkan naik angkot tanpa AC karena ACnya alami alias Angin Cepoicepoi 😆😆😆 Kapan terkahir kali kamu datang kesini? Wisata Bahari Pasir Putih, alternatif tempat wisata murah meriah bersama keluarga. Terutama untuk waktu libur yang singkat.

      Kami berangkat lewat jalur Arak-Arak. Meski sempat was-was mabuk (aku adalah Traveler yang paling nggak tahan godaan untuk mabuk saat melewati jalanan-jalanan berliku :D) tapi Alhamdulillah selama perjalanan menuju Pasir Putih aman. Yang nggak aman justru keponakanku nih. Mungkin karena nggak terbiasa melewati jalanan berliku jadi sedikit kaget. Sudah cukup lama juga nggak pernah lewat jalur Arak-Arak. Meski kondisi sepanjang jalan cukup panas dan tandus (berbanding terbalik dengan jalanan di Gumitir yang sejuk dan rimbun karena banyak pepohonan yang lebat), tapi suasana sepanjang jalan masih bisa dinikmati. Terutama saat melihat kera-kera berkeliaran di pinggir jalan dengan segala tingkah polahnya. Bikin senyum-senyum. Lucu sih, berasa sedang ada di Bali.

      Setelah melewati Arak-Arak, kami tiba di Pasir Putih. Tiket masuk Wisata Bahari Pasir Putih masih tergolong murah menurutku. 10.000 per orang. Dan karena memang waktu berangkat kesini si Ebok sudah menyiapkan segala peralatan tempurnya (mulai dari makanan berat, makanan ringan, minuman, alas duduk dan peralatan mandi) jadi aku memang memilih nggak banyak beli-beli. Makan perbekalan yang dibawa saja. Tapi memang, datang ke Pasir Putih Situbondo rasanya belum afdhol kalau belum menikmati dua hal : Sate Laler dan Rujak Legi (Rujak Manis). Iya, rasanya dua hal ini sudah menjadi khasnya Pasir Putih.

WARUNG PINGGIR PANTAI
Di dekat pintu masuk bisa kita temui toko-toko berjajar. Bermacam-macam yang dijual. Biasanya baju-baju dan souvenir. Ada juga yang menyewakan pelampung untuk anak-anak.
PERAHU LAYAR
Aku dan keluargaku memilih tempat teduh dekat parkir mobil dan ini pemandangan di depan “tempat piknik” kami.

      Bagi yang belum pernah datang ke Pasir Putih pasti bertanya-tanya “Apa sih sate laler?” Tenang aja. Sate laler bukan sate yang bahan utamanya berupa laler (lalat) tapi sate ayam yang ukurannya memang lebih mini daripada sate-sate yang biasa kita beli di pinggir jalan atau di warung-warung makan. Karena itulah disebut sate laler. Karena memang ukurannya kecil-kecil. Hehehehe.

TUKANG SATE
Pedagang sate laler yang pasti banyak ditemui di sepanjang Pasir Putih.
SATE LALER
Ini nih penampakan sate lalernya 😀 Orang dewasanya 4, tapi cuma beli dua porsi buat tombo kangen. Karena sudah bawa bekal dari rumah.

      Pedagang sate laler dan rujak legi cukup banyak disini. Hampir disepanjang jalan bisa kita temui. Harganya pun murah. Hanya 15.000 sudah mendapatkan 20 tusuk sate beserta 1 lontong besar. Kalau belum sempat sarapan sih, ini bisa sekalian buat cadangan makan siang didalam perut. Hahahaha. Kalo buat aku yaaa. Untuk rujak leginya memang nggak beli sih. Biasanya mah kalo kesini jajannya sepaket, sate laler plus rujak legi. Tapi yang pasti harga rujak leginya juga tidak sampai 20.000.

RUJAK MANIS
Biasanya, pedagang rujak legi tempatnya tidak jauh-jauh dari pedagang sate laler. Mungkin takut kangen kalo jauh-jauhan. Hahahaha

      Aku memang tidak banyak membeli makanan atau jajanan. Ya seperti yang sudah aku ceritakan di atas, perbekalan sudah lengkap. Memang, berwisata bersama keluarga lebih menyenangkan membawa bekal sendiri. Ala-ala piknik gitu deh. Apalagi kalau kita membawa anak-anak, terutama bayi hingga usia 5 tahun. Membawa bekal sendiri, selain kebersihan terjamin, juga bisa menghemat budget karena tidak banyak pengeluaran untuk membeli makanan ataupun camilan.

BEKAL
Peralatan tempur yang dibawa dari rumah. SUPER KOMPLIT!!!! 😀

        Aku juga sempat mengajak keponakanku berjalan ke dermaga. Meski cuaca sangat terik dan harus berjalan jauh, sempat beberapa kali mengeluh capek, tapi keponakanku suka. Takut sih sebenernya waktu jalan di atas dermaga. Hehehehehe. Tapi aku ajak ke ujung supaya bisa lihat orang-orang memancing. Iya, di ujung dermaga biasanya digunakan orang-orang untuk memancing. Dan disitu sudah disiapkan dua properti untuk berfoto.

DERMAGA 1
Untuk bisa masuk kesini, kita cukup membayar 2.000 saja per orang.
DERMAGA 2
Kebetulan siang itu sedang ada beberapa orang sedang memancing.
POJOK SELFIE DERMAGA
Salah satu properti untuk foto.
VIEW PANTAI
Pemandangan dari dermaga.

         Sepanjang jalan menuju dermaga, selain pedagang sate laler dan rujak legi, yang paling banyak ditemui adalah pedagang kerajinan dari bahan kerang dan pasir pantai. Ada berbagai macam yang dijual disini. Ada hiasan gantung, frame foto, tas, pembatas ruangan dll.

KERAJINAN KERANG DAN PASIR PANTAI
Salah satu toko souvenir yang ditemui saat akan menuju dermaga.

      Oh iya, karena kemarin ke Pasir Putih bawa krucil-krucil alias bayi dan kakaknya yang masih TK B, aku ada sedikit tips untuk yang ingin berlibur ke pantai bersama keluarga nih. Ada beberapa barang yang perlu disiapkan (terutama yang berencana membawa serta anak-anak) untuk berwisata ke Pantai.

  1. Alas Duduk (Banner tidak terpakai/Plastik).

       Kenapa harus membawa alas duduk dan diutamakan menggunakan banner atau plastik? Karena bahan yang tidak bisa ditembus pasir dan mudah dibersihkan. Bisa saja membawa tikar. Tetapi lebih mudah kotor dan sedikit susah membersihkannya terutama bila digunakan langsung di pasir pantai.

  1. Makanan Berat, makanan ringan dan Air minum.

        Membawa makanan dari rumah (terutama bila bepergian bersama anak-anak), selain menghemat pengeluaran untuk makan, juga lebih terjamin kebersihannya. Makanan juga bisa dimakan dalam perjalanan bila tiba-tiba lapar. Biasanya yang lebih mudah lapar adalah anak-anak, dan lapar terkadang membuat mereka rewel. Jadi juga sebagai bentuk antisipasi nih. Kalaupun tidak ingin memakan makanan berat di perjalanan, bisa memakan makanan ringan yang dibawa. Minimal sediakan makanan ringan seperti roti, biskuit ataupun snack lainnya. Jangan ketinggalan air minumnya yaaa. 🙂

  1.  Baju ganti.

    Pantai identik dengan bermain air. Membawa anak-anak tentunya menyenangkan bisa bermain air laut. Nah usahakan membawa baju ganti untuk antisipasi bila baju basah karena air laut. Sekalipun baju tidak basah, setidaknya kita sudah menyiapkan ya, daripada bingung nantinya.

  1. Alat Mandi dan Handuk.

       Alat mandi seperti sabun, shampoo serta handuk juga tak kalah pentingnya untuk dibawa. Selesai bermain di laut, biasanya kita membilas badan di kamar bilas dan barang-barang ini pasti diperlukan. Daripada membeli di warung sekitar, ada baiknya membawa sendiri dari rumah. Persiapkan khusus untuk bepergian. Misalnya dengan menggunakan sabun cair, shampoo sachet dan handuk berukuran kecil agar tidak terlalu berat.

       Nah, bila anda mengajak serta bayi anda, jangan lupa masukkan juga susu dan minyak telon atau minyak kayu putih dalam list bawaan, karena angin laut terkadang mudah membuat si kecil masuk angin. Liburan sehari menyenangkan juga loh dengan piknik ke Wisata Bahari Pasir Putih Situbondo. Liburan hemat di waktu yang singkat, seperti pengalamanku berlibur saat harpitnas minggu lalu. 🙂

      Tertarik untuk datang kesini weekend besok? Boleh dicoba kok. Kalau merasa kurang puas liburan dalam hitungan jam, bisa juga menginap semalam dengan menyewa hotel di sepanjang pantai. Ada banyak hotel berjajar di pinggiran pantai. Tinggal menyesuaikan budget. Mau yang mahal, ada. Yang murah pun banyaakkk. Tinggal pilih. Hehehehe. Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi dan tambahan alternatif untuk liburan di akhir pekan yaaaa 😉